Selasa, 05 Januari 2010

VI. Hari-Hari Penuh Dengan Air Mata

Pagi kembali datang dengan sambutan sinar mentari. Hari ini adalah hari ke-5 aku berada dirumah.

Aku beranjak dari tempat tidurku dan segera menghampiri bundaku, aku ingin membantu bundaku mengerjakan pekerjaan rumah.

Hari ini tidak seperti biasanya, adikku yang biasanya bangun pagi-pagi tapi hari ini adikku belum bangun bahkan sampai matahari memanjat langit dengan cahayanya yang mulai mnyengat kulit. Tapi aku pikir mungkin karena hari ini adikku masih libur sekolah jadi dia bangun siang.

Aku menghampiri kamar adikku dan berdiri tepat disebelah tempat tidurnya. Aku melihat adikku masih tertidur lelap dan aku mulai berusaha membangunkannya tapi adikku sama sekali tidak menghiraukannya. Aku mulai merasa aneh dengan keadaan adikku, dia mungkin terlihat tidur normal tapi saat aku menyentuh badannya, dia terasa sangat dingin dan bibirnya berwarna biru. Aku mulai merasa takut melihat semua itu, dan aku bertambah takut saat aku mencoba mendengarkan detak jantungnya tapi aku tidak mendengar apapun.

Aku berlari keluar dan memanggil ayahku dengan sangat panik, aku takut dan sangat takut…
Aku dan ayahku menghampiri adikku, dengan segala cara ayahku mencoba membangunkan adikku tapi tidak berhasil.

Air mataku mulai mengalir deras karena adikku tidak juga bangun dari tidurnya. Aku dan ayahku tetap mencoba membangunkan adikku tapi tetap tidak berhasil.

Setelah beberapa saat bundaku datang dengan berlinang air mata. Aku bertambah histeris melihat ibuku. Aku tetap berusaha membangunkan adikku tapi dia tidak juga bangun dari tidurnya. Aku menangis dan terus menangis saat aku tahu adikku tidak akan bangun lagi untuk selamanya. Aku memeluk erat tubuh adikku, aku benar-benar tidak ingin kehilangan adik yang sangat aku sayangi. Aku menangis dengan penuh penyesalan dengan semua ini, aku menyesal karena aku belum sempat mengatakan ataupun menunjukkan betapa aku sangat menyayangi adikku, aku menyesal karena aku belum sempat meminta maaf kepada adikku atas semua sikap kasarku yang sesungguhnya itu semua aku lakukan karena aku tidak tahu bagaimana cara menunjukkan rasa sayangku kepada adikku.

Aku benci dengan semua kenyataan ini, aku benci karena aku harus kehilangan orang yang sangat aku sayangi ketika aku baru menyadari hal yang paling berharga dalam hidup aku. Dan aku bertambah menyesal setiap aku melihat fotoku dipajang di atas meja belajar adikku. Aku terlambat menyadari betapa adikku sangat menyayangi aku. Aku sangat menyesal karena aku baru tahu saat adikku pergi jauh dan tidak akan kembali lagi. Aku benci pada diriku karena aku tidak pernah menyadari bahwa adikku sangat menyayangi diriku dan mengharapkan aku bisa menunjukkan rasa sayangku kepadanya.

Kenapa harus adikku yang pergi terlebih dahulu, dia masih sangat suci dan masih banyak hal yang ingin dia lakukan. Kenapa bukan aku yang penuh dengan dosa ini.

Aku benar-benar tidak bisa menerima semua kenyataan ini, adikku yang baru tadi malam masuk kedalam kamarku dan dengan senyumnya yang manis kepadaku, adikku yang baru tadi malam bercerita panjang lebar kepadaku tiba-tiba pagi ini pergi meninggalkan aku tanpa kata sedikitpun. Tidak ada yang bisa aku lakukan saat ini selain menangis dan menyesal denga kenyataan ini. Sekarang hanya penyesalan yang akan selalu menemani hidupku dan setiap langkah dalam hari-hariku. Tiada yang paling aku benci saat ini selain diriku sendiri.

. . .

Hari-hari telah berlalu yang kulewati dengan air mata, tiada lagi senyuman manis dalam keluargaku setelah kepergian adikku. Setiap aku melihat wajahnya yang penuh dengan senyum dalam foto, aku tidak bisa menahan air mataku dan setiap aku mengingat semua tingkah lakunya, air mataku mengalir tanpa henti.

Aku sangat merindukan adikku, kini yang ada dalam hatiku hanya rasa rindu yang bercampur dengan penyesalan.

Hari-hariku terasa hampa setelah adikku pergi, yang kulihat dan kurasakan setiap pagi saat membuka mataku hanyalah air mata dan kesedihan dari keluargaku. Setiap hari aku melihat bundaku berlinang air mata, setiap hari aku melihat ayahku bersedih. Aku merasa mungkin aku tidak akan pernah lagi melihat senyum manis dari ayah bundaku. Walaupun ayah dan bundaku tersenyum dihadapanku tapi aku tahu senyum itu bukanlah senyuman tapi hanya sebuah kepalsuan untuk menutupi kesedihan mereka.

Begitupun dengan aku yang setiap hari berusaha tersenyum dihadapan semua orang tapi sebenarnya hati aku menjerit dan menangis.

Adikku yang sangat aku sayang telah pergi dan tidak meninggalkan satu katapun untukku, tapi adikku sungguh sangat mulia karena saat dia pergi dia memberikan sesuatu yang sangat aku dambakan sejak dulu. Perhatian dari ayahku, itulah yang diberikan oleh adikku. Setelah kepergian adikku, ayahku kini lebih memperhatikan dan mau melihat aku. Kini aku merasa lebih dekat denga ayahku, dia tidak lagi bersikap dingin kepadaku dan akupun tidak lagi merasa asing denga keberadaan ayahku seperti yang aku rasakan dulu.

Tapi semua itu tiada bisa menggantikan kebahagiaanku akan kehadiran adikku, aku lebih memilih semua itu tidak aku dapatkan selamanya asalkan adikku hidup kembali dan tersenyum kepadaku.

Senyuman manis dalam hidupku kini telah benar-benar menghilang dan mungkin tidak akan pernah kembali lagi seiring dengan kepergian adikku.

Sudah hampir dua bulan aku berada di rumah ditemani kesedihan dan air mata yang kurasakan dan kulihat setiap hari. Kini aku mulai bisa menerima kenyataan tapi aku tetap belum bisa menghapus air mataku yang terus mengalir.

. . .

Pagi telah datang yang aku rasa tiada bermakna apapun seperti biasa setelah kepergian adikku. Hari ini aku berencana kembali ke Jakarta untuk melanjutkan study, aku telah mempersiapkan semua barang yang akan aku bawa. Sejujurnya aku merasa sangat berat bila aku harus meninggalkan rumah hari ini, bundaku adalah alasan utama kenapa aku merasa berat untuk pergi. Bundaku pasti kelelahan mengerjakan pekerjaan rumah sendiri apalagi sebentar lagi aka nada acara besar di rumah dan aku tidak bisa membantu memepersiapkan semua itu. Tapi aku juga tidak bisa menunda lagi kepergianku dan aku berharap bundaku bisa mengerti semua itu, akupun berharap adikku akan selalu menemani bundaku di rumah dan membantu semua pekerjaan bundaku. Karena aku yakin walaupun adikku telah meninggal tapi dia tetap ada di rumah dan selalu bersama kami semua.

Kini aku hanya bisa melihat adikku tersenyum dalam mimpiku dan aku berharap aku bisa bertemu adikku dalam setiap mimpiku. Aku ingin melihat adikku yang tertawa riang saat bercanda denganku walalupun itu semua hanya ada dalam mimpiku saja, tapi setidaknya itu bisa mengobati rasa rinduku pada adikku meskipun aku tidak akan pernah bisa menghapus air mata yang terus mengalir deras dalam hatiku yang dengan semaunya membasahi pipiku.

Mungkin aku akan memulai langkahku di hari esok tanpa senyuman dari hati karena yang ada dalam hatiku saat ini hanyalah air mata. Tapi aku akan tetap berusaha tersenyum di depan semua orang walaupun hanya sekedar senyum di bibir saja karena aku tidak mau dikasihani oleh orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar