II. Senyuman Bunda
Indahnya suasana pagi ini mulai terasa berubah menjadi kelam saat aku melihat wajah bundaku. Wajah yang terlihat sangat lelah karena menanggung beban yang begitu banyak dan terlalu banyak kesedihan yang terlihat dari wajah bundaku tersayang. Aku mulai berpikir apa yang harus aku lakukan untuk mengurangi beban bundaku. Aku marah pada diriku sendiri karena sebagai anak aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk bundaku.
Aku mulai masuk dapur, aku ingin membantu bundaku agar dapat mengurangi kelelahannya walaupun hanya sedikit. Baru beberapa menit saja aku ruangan itu tapi aku dah mulai merasa tidak betah, panas dan hanya panas yang terasa diruangan itu. Mungkin karena aku sedang menyalakan api maka suasana dapur menjadi sangat panas yang membuat aku mulai berpikir, sekian lama bundaku berada diruangan ini tanpa pernah mengeluh sedangkan aku yang belum sampai 1 jam diruangan ini, aku sudah mengeluh panjang lebar dan ingin cepat-cepat keluar. Sungguh mulia bundaku yang rela menahan rasa panas ini dari aku kecil sampai aku dewasa, mungkinkah nanti aku bisa seperti bundaku…?? Ah sepertinya itu hal yang sangat mustahil, aku terlalu lemah untuk menghadapi semua ini. Tapi setidaknya aku harap bisa mendapat sedikit kekuatan seperti bundaku.
Matahari kini mulai menunjukan keangkuhannya dan akupun telah selesai memasak. Aku menghampiri bundaku dan aku mendapat sambutan yang kurang menyenangkan dari bundaku, aku tidak tahu apa yang salah dari ucapan dan tingkah lakuku sehingga bunda tiba-tiba marah dan membentak aku. Aku langsung pergi meninggalkan bundaku, aku berlari ke kamar dan melampiaskan kesedihanku dengan menangis. Aku memikirkan apa yang salah dariku sampai bunda bersikap seperti itu padaku, apa da yang tidak beres dengan pekerjaanku…?? Entahlah…
Aku keluar dari kamar dan mulai menghapus air mataku, namun aku masih marah karena sikap bunda terhadapku. Aku berjalan keluar dan bermaksud ingin minum, aku merasa lelah setelah menangis tadi. Namun betapa terkejutnya aku saat melihat bundaku menangis tersedu-sedu sendirian diruang makan dan rasa marahku terhadap bunda seketika musnah dan berubah menjadi iba. Aku sadar aku terlalu egois yang hanya menganggap hidupku paling malang, aku terlalu egois karena aku tidak bisa mengerti perasaan bundaku, aku terlalu egois karena langsung marah hanya karena dibentak oleh bundaku tanpa menyadari bahwa bundaku bersikap seperti itu karena sudah terlalu lelah menanggung semua beban. Seharusnya aku bisa menyadari kesedihan yang dirasakan oleh bundaku.
Aku masuk dan bertanya kepada bundaku alasan yang membuat bunda bisa menangis, namun bukan jawaban yang aku dapatkan. Bundaku hanya memberikan aku nasihat sambil meneteskan air matanya.
Aku masih memikirkan nasihat bundaku tadi, dan akupun mulai mengerti maksud dari ucapan bunda dan alasan bunda menangis. Tanpa aku sadari, air mataku menetes dan aku mulai menangis sejadinya. Aku mulai bisa merasakan semua beban yang ditanggung oleh bundaku. Dalam hati aku berkata,
“aku harus bisa menghapus air mata bunda dan aku harus bisa membuat bunda tersenyum setiap saat”
Aku mulai berusaha mewujudkan keinginanku itu dengan bercanda bersama adikku didepan bundaku dan setelah beberapa lama, bundaku akhirnya bisa tersenyum dengan sangat manis. Aku merasa sangat bahagia karena bisa melihat bunda tersenyum lagi.
Aku mulai masuk dapur, aku ingin membantu bundaku agar dapat mengurangi kelelahannya walaupun hanya sedikit. Baru beberapa menit saja aku ruangan itu tapi aku dah mulai merasa tidak betah, panas dan hanya panas yang terasa diruangan itu. Mungkin karena aku sedang menyalakan api maka suasana dapur menjadi sangat panas yang membuat aku mulai berpikir, sekian lama bundaku berada diruangan ini tanpa pernah mengeluh sedangkan aku yang belum sampai 1 jam diruangan ini, aku sudah mengeluh panjang lebar dan ingin cepat-cepat keluar. Sungguh mulia bundaku yang rela menahan rasa panas ini dari aku kecil sampai aku dewasa, mungkinkah nanti aku bisa seperti bundaku…?? Ah sepertinya itu hal yang sangat mustahil, aku terlalu lemah untuk menghadapi semua ini. Tapi setidaknya aku harap bisa mendapat sedikit kekuatan seperti bundaku.
Matahari kini mulai menunjukan keangkuhannya dan akupun telah selesai memasak. Aku menghampiri bundaku dan aku mendapat sambutan yang kurang menyenangkan dari bundaku, aku tidak tahu apa yang salah dari ucapan dan tingkah lakuku sehingga bunda tiba-tiba marah dan membentak aku. Aku langsung pergi meninggalkan bundaku, aku berlari ke kamar dan melampiaskan kesedihanku dengan menangis. Aku memikirkan apa yang salah dariku sampai bunda bersikap seperti itu padaku, apa da yang tidak beres dengan pekerjaanku…?? Entahlah…
Aku keluar dari kamar dan mulai menghapus air mataku, namun aku masih marah karena sikap bunda terhadapku. Aku berjalan keluar dan bermaksud ingin minum, aku merasa lelah setelah menangis tadi. Namun betapa terkejutnya aku saat melihat bundaku menangis tersedu-sedu sendirian diruang makan dan rasa marahku terhadap bunda seketika musnah dan berubah menjadi iba. Aku sadar aku terlalu egois yang hanya menganggap hidupku paling malang, aku terlalu egois karena aku tidak bisa mengerti perasaan bundaku, aku terlalu egois karena langsung marah hanya karena dibentak oleh bundaku tanpa menyadari bahwa bundaku bersikap seperti itu karena sudah terlalu lelah menanggung semua beban. Seharusnya aku bisa menyadari kesedihan yang dirasakan oleh bundaku.
Aku masuk dan bertanya kepada bundaku alasan yang membuat bunda bisa menangis, namun bukan jawaban yang aku dapatkan. Bundaku hanya memberikan aku nasihat sambil meneteskan air matanya.
. . .
Aku masih memikirkan nasihat bundaku tadi, dan akupun mulai mengerti maksud dari ucapan bunda dan alasan bunda menangis. Tanpa aku sadari, air mataku menetes dan aku mulai menangis sejadinya. Aku mulai bisa merasakan semua beban yang ditanggung oleh bundaku. Dalam hati aku berkata,
“aku harus bisa menghapus air mata bunda dan aku harus bisa membuat bunda tersenyum setiap saat”
Aku mulai berusaha mewujudkan keinginanku itu dengan bercanda bersama adikku didepan bundaku dan setelah beberapa lama, bundaku akhirnya bisa tersenyum dengan sangat manis. Aku merasa sangat bahagia karena bisa melihat bunda tersenyum lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar