2 February 2014 adalah hari dimana aku menyerahkan hati dan cintaku untuk seseorang yang akrab dipanggil adit. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun kami jalani dalam hubungan yang akrab disebut pacaran. Saat usia hubungan kami memasuki 1 tahun, aku membuat komitmen untuk menjadikannya pacar terakhir dan calon pendamping hidupku, calon suamiku. Aku yakin dialah yg aku cari, karna aku mampu menjadi diriku sendiri dan dia mampu melengkapi segala kekuranganku. Aku tidak pernah lagi bisa melihat pria lain, karena hatinya sudah kuyakinkan dengan namanya. Hubungan kami dilengkapi dengan tawa, canda, tangis, bahagia, dan terkadang pertengkaran. Hingga tiba saat hubunganku mencapai umur 29 bulan, atau bisa dirinci menjadi 2thn 5bln 15hari. Saat itu tgl 17 juli 2016, kami bertengkar hebat hingga aku mengucapkan kata "pisah", yang sebenarnya aku ucapkan karena muncul keraguan dalam hatiku dan aku ingin melihat seberapa perjuangannya mempertahankan aku. Namun betapa kaget aku saat pertengkaran hampir selesai, dia malah mengucapkan kata "pisah" dengan nada tegas dan yakin, serta mengungkapkan bahwa dia menemuiku sebenarnya untuk mengucapkan kata "pisah". Saat itu hatiku hancur dan mendadak kosong, aku merasa tertipu dengan semua kalimat cinta yang dia ucapkan, aku mulai berfikir bahwa semua kata cinta yang dia ucapkan selama ini hanyalah kebohongan belaka. Meskipun akhirnya pertengkaran kami selesai dan hubungan kami tidak berakhir, namun aku masih merasa ada bagian yang hilang dan kosong dalam hatiku. Aku mulai merasa hubungan kami hampa dan kekosongan dihatiku tidak terobati, dan yang bisa kulakukan hanyalah pasrah dan ikhlas. Aku pasrah dengan apa yang akan aku alami di depan, aku ikhlas dengan kenyataan bahwa semuanya sudah berubah, cintanya untukku tidak lagi sama seperti dulu. Aku berusaha menggali lagi semua kenangan manis kami dengan tujuan mencari bagian yang hilang dalam hatiku dan berharap kekosongan yang aku rasakan ini bisa terobati. Tapi sepertinya tidak berpengaruh sama sekali, terlebih lagi dia sudah tidak memiliki banyak waktu untuk menemaniku seperti dulu. Aku masih ingat jelas dulu aku adalah priority baginya, kami memiliki banyak waktu untuk bersama, yaahhh minimal sabtu-minggu dia ada untukku, tapi sekarang waktunya untukku hanyalah dihari sabtu dan mungkin suatu saat tidak ada lagi waktu untukku. Menggali kenangan manis kami yang kulakukan sendirian hanya membuatku merasa semakin kesepian dan kosong. Entah apalagi yang harus kulakukan untuk menemukan bagian yang hilang dari hatiku..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar