2 February 2014 adalah hari dimana aku menyerahkan hati dan cintaku untuk seseorang yang akrab dipanggil adit. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun kami jalani dalam hubungan yang akrab disebut pacaran. Saat usia hubungan kami memasuki 1 tahun, aku membuat komitmen untuk menjadikannya pacar terakhir dan calon pendamping hidupku, calon suamiku. Aku yakin dialah yg aku cari, karna aku mampu menjadi diriku sendiri dan dia mampu melengkapi segala kekuranganku. Aku tidak pernah lagi bisa melihat pria lain, karena hatinya sudah kuyakinkan dengan namanya. Hubungan kami dilengkapi dengan tawa, canda, tangis, bahagia, dan terkadang pertengkaran. Hingga tiba saat hubunganku mencapai umur 29 bulan, atau bisa dirinci menjadi 2thn 5bln 15hari. Saat itu tgl 17 juli 2016, kami bertengkar hebat hingga aku mengucapkan kata "pisah", yang sebenarnya aku ucapkan karena muncul keraguan dalam hatiku dan aku ingin melihat seberapa perjuangannya mempertahankan aku. Namun betapa kaget aku saat pertengkaran hampir selesai, dia malah mengucapkan kata "pisah" dengan nada tegas dan yakin, serta mengungkapkan bahwa dia menemuiku sebenarnya untuk mengucapkan kata "pisah". Saat itu hatiku hancur dan mendadak kosong, aku merasa tertipu dengan semua kalimat cinta yang dia ucapkan, aku mulai berfikir bahwa semua kata cinta yang dia ucapkan selama ini hanyalah kebohongan belaka. Meskipun akhirnya pertengkaran kami selesai dan hubungan kami tidak berakhir, namun aku masih merasa ada bagian yang hilang dan kosong dalam hatiku. Aku mulai merasa hubungan kami hampa dan kekosongan dihatiku tidak terobati, dan yang bisa kulakukan hanyalah pasrah dan ikhlas. Aku pasrah dengan apa yang akan aku alami di depan, aku ikhlas dengan kenyataan bahwa semuanya sudah berubah, cintanya untukku tidak lagi sama seperti dulu. Aku berusaha menggali lagi semua kenangan manis kami dengan tujuan mencari bagian yang hilang dalam hatiku dan berharap kekosongan yang aku rasakan ini bisa terobati. Tapi sepertinya tidak berpengaruh sama sekali, terlebih lagi dia sudah tidak memiliki banyak waktu untuk menemaniku seperti dulu. Aku masih ingat jelas dulu aku adalah priority baginya, kami memiliki banyak waktu untuk bersama, yaahhh minimal sabtu-minggu dia ada untukku, tapi sekarang waktunya untukku hanyalah dihari sabtu dan mungkin suatu saat tidak ada lagi waktu untukku. Menggali kenangan manis kami yang kulakukan sendirian hanya membuatku merasa semakin kesepian dan kosong. Entah apalagi yang harus kulakukan untuk menemukan bagian yang hilang dari hatiku..
"Lembaran Cerita" of san_san
Minggu, 24 Juli 2016
Selasa, 05 Januari 2010
VI. Hari-Hari Penuh Dengan Air Mata
Pagi kembali datang dengan sambutan sinar mentari. Hari ini adalah hari ke-5 aku berada dirumah.
Aku beranjak dari tempat tidurku dan segera menghampiri bundaku, aku ingin membantu bundaku mengerjakan pekerjaan rumah.
Hari ini tidak seperti biasanya, adikku yang biasanya bangun pagi-pagi tapi hari ini adikku belum bangun bahkan sampai matahari memanjat langit dengan cahayanya yang mulai mnyengat kulit. Tapi aku pikir mungkin karena hari ini adikku masih libur sekolah jadi dia bangun siang.
Aku menghampiri kamar adikku dan berdiri tepat disebelah tempat tidurnya. Aku melihat adikku masih tertidur lelap dan aku mulai berusaha membangunkannya tapi adikku sama sekali tidak menghiraukannya. Aku mulai merasa aneh dengan keadaan adikku, dia mungkin terlihat tidur normal tapi saat aku menyentuh badannya, dia terasa sangat dingin dan bibirnya berwarna biru. Aku mulai merasa takut melihat semua itu, dan aku bertambah takut saat aku mencoba mendengarkan detak jantungnya tapi aku tidak mendengar apapun.
Aku berlari keluar dan memanggil ayahku dengan sangat panik, aku takut dan sangat takut…
Aku dan ayahku menghampiri adikku, dengan segala cara ayahku mencoba membangunkan adikku tapi tidak berhasil.
Air mataku mulai mengalir deras karena adikku tidak juga bangun dari tidurnya. Aku dan ayahku tetap mencoba membangunkan adikku tapi tetap tidak berhasil.
Setelah beberapa saat bundaku datang dengan berlinang air mata. Aku bertambah histeris melihat ibuku. Aku tetap berusaha membangunkan adikku tapi dia tidak juga bangun dari tidurnya. Aku menangis dan terus menangis saat aku tahu adikku tidak akan bangun lagi untuk selamanya. Aku memeluk erat tubuh adikku, aku benar-benar tidak ingin kehilangan adik yang sangat aku sayangi. Aku menangis dengan penuh penyesalan dengan semua ini, aku menyesal karena aku belum sempat mengatakan ataupun menunjukkan betapa aku sangat menyayangi adikku, aku menyesal karena aku belum sempat meminta maaf kepada adikku atas semua sikap kasarku yang sesungguhnya itu semua aku lakukan karena aku tidak tahu bagaimana cara menunjukkan rasa sayangku kepada adikku.
Aku benci dengan semua kenyataan ini, aku benci karena aku harus kehilangan orang yang sangat aku sayangi ketika aku baru menyadari hal yang paling berharga dalam hidup aku. Dan aku bertambah menyesal setiap aku melihat fotoku dipajang di atas meja belajar adikku. Aku terlambat menyadari betapa adikku sangat menyayangi aku. Aku sangat menyesal karena aku baru tahu saat adikku pergi jauh dan tidak akan kembali lagi. Aku benci pada diriku karena aku tidak pernah menyadari bahwa adikku sangat menyayangi diriku dan mengharapkan aku bisa menunjukkan rasa sayangku kepadanya.
Kenapa harus adikku yang pergi terlebih dahulu, dia masih sangat suci dan masih banyak hal yang ingin dia lakukan. Kenapa bukan aku yang penuh dengan dosa ini.
Aku benar-benar tidak bisa menerima semua kenyataan ini, adikku yang baru tadi malam masuk kedalam kamarku dan dengan senyumnya yang manis kepadaku, adikku yang baru tadi malam bercerita panjang lebar kepadaku tiba-tiba pagi ini pergi meninggalkan aku tanpa kata sedikitpun. Tidak ada yang bisa aku lakukan saat ini selain menangis dan menyesal denga kenyataan ini. Sekarang hanya penyesalan yang akan selalu menemani hidupku dan setiap langkah dalam hari-hariku. Tiada yang paling aku benci saat ini selain diriku sendiri.
Hari-hari telah berlalu yang kulewati dengan air mata, tiada lagi senyuman manis dalam keluargaku setelah kepergian adikku. Setiap aku melihat wajahnya yang penuh dengan senyum dalam foto, aku tidak bisa menahan air mataku dan setiap aku mengingat semua tingkah lakunya, air mataku mengalir tanpa henti.
Aku sangat merindukan adikku, kini yang ada dalam hatiku hanya rasa rindu yang bercampur dengan penyesalan.
Hari-hariku terasa hampa setelah adikku pergi, yang kulihat dan kurasakan setiap pagi saat membuka mataku hanyalah air mata dan kesedihan dari keluargaku. Setiap hari aku melihat bundaku berlinang air mata, setiap hari aku melihat ayahku bersedih. Aku merasa mungkin aku tidak akan pernah lagi melihat senyum manis dari ayah bundaku. Walaupun ayah dan bundaku tersenyum dihadapanku tapi aku tahu senyum itu bukanlah senyuman tapi hanya sebuah kepalsuan untuk menutupi kesedihan mereka.
Begitupun dengan aku yang setiap hari berusaha tersenyum dihadapan semua orang tapi sebenarnya hati aku menjerit dan menangis.
Adikku yang sangat aku sayang telah pergi dan tidak meninggalkan satu katapun untukku, tapi adikku sungguh sangat mulia karena saat dia pergi dia memberikan sesuatu yang sangat aku dambakan sejak dulu. Perhatian dari ayahku, itulah yang diberikan oleh adikku. Setelah kepergian adikku, ayahku kini lebih memperhatikan dan mau melihat aku. Kini aku merasa lebih dekat denga ayahku, dia tidak lagi bersikap dingin kepadaku dan akupun tidak lagi merasa asing denga keberadaan ayahku seperti yang aku rasakan dulu.
Tapi semua itu tiada bisa menggantikan kebahagiaanku akan kehadiran adikku, aku lebih memilih semua itu tidak aku dapatkan selamanya asalkan adikku hidup kembali dan tersenyum kepadaku.
Senyuman manis dalam hidupku kini telah benar-benar menghilang dan mungkin tidak akan pernah kembali lagi seiring dengan kepergian adikku.
Sudah hampir dua bulan aku berada di rumah ditemani kesedihan dan air mata yang kurasakan dan kulihat setiap hari. Kini aku mulai bisa menerima kenyataan tapi aku tetap belum bisa menghapus air mataku yang terus mengalir.
Pagi telah datang yang aku rasa tiada bermakna apapun seperti biasa setelah kepergian adikku. Hari ini aku berencana kembali ke Jakarta untuk melanjutkan study, aku telah mempersiapkan semua barang yang akan aku bawa. Sejujurnya aku merasa sangat berat bila aku harus meninggalkan rumah hari ini, bundaku adalah alasan utama kenapa aku merasa berat untuk pergi. Bundaku pasti kelelahan mengerjakan pekerjaan rumah sendiri apalagi sebentar lagi aka nada acara besar di rumah dan aku tidak bisa membantu memepersiapkan semua itu. Tapi aku juga tidak bisa menunda lagi kepergianku dan aku berharap bundaku bisa mengerti semua itu, akupun berharap adikku akan selalu menemani bundaku di rumah dan membantu semua pekerjaan bundaku. Karena aku yakin walaupun adikku telah meninggal tapi dia tetap ada di rumah dan selalu bersama kami semua.
Kini aku hanya bisa melihat adikku tersenyum dalam mimpiku dan aku berharap aku bisa bertemu adikku dalam setiap mimpiku. Aku ingin melihat adikku yang tertawa riang saat bercanda denganku walalupun itu semua hanya ada dalam mimpiku saja, tapi setidaknya itu bisa mengobati rasa rinduku pada adikku meskipun aku tidak akan pernah bisa menghapus air mata yang terus mengalir deras dalam hatiku yang dengan semaunya membasahi pipiku.
Mungkin aku akan memulai langkahku di hari esok tanpa senyuman dari hati karena yang ada dalam hatiku saat ini hanyalah air mata. Tapi aku akan tetap berusaha tersenyum di depan semua orang walaupun hanya sekedar senyum di bibir saja karena aku tidak mau dikasihani oleh orang lain.
Aku beranjak dari tempat tidurku dan segera menghampiri bundaku, aku ingin membantu bundaku mengerjakan pekerjaan rumah.
Hari ini tidak seperti biasanya, adikku yang biasanya bangun pagi-pagi tapi hari ini adikku belum bangun bahkan sampai matahari memanjat langit dengan cahayanya yang mulai mnyengat kulit. Tapi aku pikir mungkin karena hari ini adikku masih libur sekolah jadi dia bangun siang.
Aku menghampiri kamar adikku dan berdiri tepat disebelah tempat tidurnya. Aku melihat adikku masih tertidur lelap dan aku mulai berusaha membangunkannya tapi adikku sama sekali tidak menghiraukannya. Aku mulai merasa aneh dengan keadaan adikku, dia mungkin terlihat tidur normal tapi saat aku menyentuh badannya, dia terasa sangat dingin dan bibirnya berwarna biru. Aku mulai merasa takut melihat semua itu, dan aku bertambah takut saat aku mencoba mendengarkan detak jantungnya tapi aku tidak mendengar apapun.
Aku berlari keluar dan memanggil ayahku dengan sangat panik, aku takut dan sangat takut…
Aku dan ayahku menghampiri adikku, dengan segala cara ayahku mencoba membangunkan adikku tapi tidak berhasil.
Air mataku mulai mengalir deras karena adikku tidak juga bangun dari tidurnya. Aku dan ayahku tetap mencoba membangunkan adikku tapi tetap tidak berhasil.
Setelah beberapa saat bundaku datang dengan berlinang air mata. Aku bertambah histeris melihat ibuku. Aku tetap berusaha membangunkan adikku tapi dia tidak juga bangun dari tidurnya. Aku menangis dan terus menangis saat aku tahu adikku tidak akan bangun lagi untuk selamanya. Aku memeluk erat tubuh adikku, aku benar-benar tidak ingin kehilangan adik yang sangat aku sayangi. Aku menangis dengan penuh penyesalan dengan semua ini, aku menyesal karena aku belum sempat mengatakan ataupun menunjukkan betapa aku sangat menyayangi adikku, aku menyesal karena aku belum sempat meminta maaf kepada adikku atas semua sikap kasarku yang sesungguhnya itu semua aku lakukan karena aku tidak tahu bagaimana cara menunjukkan rasa sayangku kepada adikku.
Aku benci dengan semua kenyataan ini, aku benci karena aku harus kehilangan orang yang sangat aku sayangi ketika aku baru menyadari hal yang paling berharga dalam hidup aku. Dan aku bertambah menyesal setiap aku melihat fotoku dipajang di atas meja belajar adikku. Aku terlambat menyadari betapa adikku sangat menyayangi aku. Aku sangat menyesal karena aku baru tahu saat adikku pergi jauh dan tidak akan kembali lagi. Aku benci pada diriku karena aku tidak pernah menyadari bahwa adikku sangat menyayangi diriku dan mengharapkan aku bisa menunjukkan rasa sayangku kepadanya.
Kenapa harus adikku yang pergi terlebih dahulu, dia masih sangat suci dan masih banyak hal yang ingin dia lakukan. Kenapa bukan aku yang penuh dengan dosa ini.
Aku benar-benar tidak bisa menerima semua kenyataan ini, adikku yang baru tadi malam masuk kedalam kamarku dan dengan senyumnya yang manis kepadaku, adikku yang baru tadi malam bercerita panjang lebar kepadaku tiba-tiba pagi ini pergi meninggalkan aku tanpa kata sedikitpun. Tidak ada yang bisa aku lakukan saat ini selain menangis dan menyesal denga kenyataan ini. Sekarang hanya penyesalan yang akan selalu menemani hidupku dan setiap langkah dalam hari-hariku. Tiada yang paling aku benci saat ini selain diriku sendiri.
. . .
Hari-hari telah berlalu yang kulewati dengan air mata, tiada lagi senyuman manis dalam keluargaku setelah kepergian adikku. Setiap aku melihat wajahnya yang penuh dengan senyum dalam foto, aku tidak bisa menahan air mataku dan setiap aku mengingat semua tingkah lakunya, air mataku mengalir tanpa henti.
Aku sangat merindukan adikku, kini yang ada dalam hatiku hanya rasa rindu yang bercampur dengan penyesalan.
Hari-hariku terasa hampa setelah adikku pergi, yang kulihat dan kurasakan setiap pagi saat membuka mataku hanyalah air mata dan kesedihan dari keluargaku. Setiap hari aku melihat bundaku berlinang air mata, setiap hari aku melihat ayahku bersedih. Aku merasa mungkin aku tidak akan pernah lagi melihat senyum manis dari ayah bundaku. Walaupun ayah dan bundaku tersenyum dihadapanku tapi aku tahu senyum itu bukanlah senyuman tapi hanya sebuah kepalsuan untuk menutupi kesedihan mereka.
Begitupun dengan aku yang setiap hari berusaha tersenyum dihadapan semua orang tapi sebenarnya hati aku menjerit dan menangis.
Adikku yang sangat aku sayang telah pergi dan tidak meninggalkan satu katapun untukku, tapi adikku sungguh sangat mulia karena saat dia pergi dia memberikan sesuatu yang sangat aku dambakan sejak dulu. Perhatian dari ayahku, itulah yang diberikan oleh adikku. Setelah kepergian adikku, ayahku kini lebih memperhatikan dan mau melihat aku. Kini aku merasa lebih dekat denga ayahku, dia tidak lagi bersikap dingin kepadaku dan akupun tidak lagi merasa asing denga keberadaan ayahku seperti yang aku rasakan dulu.
Tapi semua itu tiada bisa menggantikan kebahagiaanku akan kehadiran adikku, aku lebih memilih semua itu tidak aku dapatkan selamanya asalkan adikku hidup kembali dan tersenyum kepadaku.
Senyuman manis dalam hidupku kini telah benar-benar menghilang dan mungkin tidak akan pernah kembali lagi seiring dengan kepergian adikku.
Sudah hampir dua bulan aku berada di rumah ditemani kesedihan dan air mata yang kurasakan dan kulihat setiap hari. Kini aku mulai bisa menerima kenyataan tapi aku tetap belum bisa menghapus air mataku yang terus mengalir.
. . .
Pagi telah datang yang aku rasa tiada bermakna apapun seperti biasa setelah kepergian adikku. Hari ini aku berencana kembali ke Jakarta untuk melanjutkan study, aku telah mempersiapkan semua barang yang akan aku bawa. Sejujurnya aku merasa sangat berat bila aku harus meninggalkan rumah hari ini, bundaku adalah alasan utama kenapa aku merasa berat untuk pergi. Bundaku pasti kelelahan mengerjakan pekerjaan rumah sendiri apalagi sebentar lagi aka nada acara besar di rumah dan aku tidak bisa membantu memepersiapkan semua itu. Tapi aku juga tidak bisa menunda lagi kepergianku dan aku berharap bundaku bisa mengerti semua itu, akupun berharap adikku akan selalu menemani bundaku di rumah dan membantu semua pekerjaan bundaku. Karena aku yakin walaupun adikku telah meninggal tapi dia tetap ada di rumah dan selalu bersama kami semua.
Kini aku hanya bisa melihat adikku tersenyum dalam mimpiku dan aku berharap aku bisa bertemu adikku dalam setiap mimpiku. Aku ingin melihat adikku yang tertawa riang saat bercanda denganku walalupun itu semua hanya ada dalam mimpiku saja, tapi setidaknya itu bisa mengobati rasa rinduku pada adikku meskipun aku tidak akan pernah bisa menghapus air mata yang terus mengalir deras dalam hatiku yang dengan semaunya membasahi pipiku.
Mungkin aku akan memulai langkahku di hari esok tanpa senyuman dari hati karena yang ada dalam hatiku saat ini hanyalah air mata. Tapi aku akan tetap berusaha tersenyum di depan semua orang walaupun hanya sekedar senyum di bibir saja karena aku tidak mau dikasihani oleh orang lain.
V. Akhirnya Aku Pulang
Mentari bersinar dengan sangat cerah hari ini seperti cerahnya hatiku saat ini. Akhirnya hari yang aku tunggu-tunggu telah tiba, obat dari rasa rinduku selama ini akan aku dapatkan hari ini juga.
Tidak terasa sudah 10 hari berlalu dan semua hari itu aku lalui dengan penuh kebosanan, namun hari ini semua rasa bosan itu akan hilang dengan kehadiran senyuman dari bunda, adik-adikku serta ayahku. Hari ini adalah hari yang paling menyenangkan bagiku, hari ini aku akan pulang ke rumah karena semua tugas-tugasku sudah selesai. Aku sangat gembira karena bisa menyelesaikan tugasku lebih cepat dari perkiraanku.
Aku bersiap-siap untuk pulang, aku ingin segera sampai di rumah. Semua barang yang ingin aku bawa telah rapi pada tempatnya dan akupun sudah selesai menghias diri. Namun ada satu hal yang membuat aku gelisah, sudah 30 menit aku menunggu kakakku tapi dia belum datang juga. Kakakku akan mengantarkan aku sampai ke terminal.
Setelah 45 menit aku menunggu, akhirnya kakakku datang juga dan aku bergegas pergi bersama kakakku.
Setelah melalui perjalanan yang melelahkan, akhirnya aku sampai di desaku yang tercita. Tepat pukul 5.30 wib aku sampai di rumah dan aku langsung menumpahkan rasa rinduku kepada adik-adikku dengan bercanda bersama mereka. Setelah puas bercanda, aku menghampiri bundaku dengan niat ingin membantu pekerjaan rumah yang mungkin belum diselesaikan oleh bunda.
Kini siang telah berganti dengan malam, aku melepaskan rindu pada indahnya suasana malam di rumahku dengan memandangi taman langit yang penuh dengan bintang yang sangat cantik dan kurasakan sambutan lembut dari angin malam yang begitu ramah. Sungguh berbeda dengan angin malam yang aku rasakan di Jakarta.
Karena tidak mau ketinggalan oleh suasana hangat bersama ayah dan bunda searata adik-adikku, aku segera masuk dan bergabung dengan mereka. Aku bercanda dan tertawa bersama mereka, aku sangat bahagia karena malam ini aku bisa melihat senyuman dari wajah mereka. Kini aku bisa tersenyum bahagia setelah melihat senyuman mereka lagi dan tiada rasa gelisah ataupun rasa bosan yang aku rasakan semenjak aku menginjak halaman rumahku dan melihat wajah ayah dan bunda serta adik-adikku dengan senyum manis mereka.
Kini aku sadar, tiada hal yang lebih berharga selain senyuman keluargaku. Tiada hari yang paling indah selain hari-hari yang aku lewati bersama ayah dan bunda serta saudaraku. Dan tiada yang bisa membuat aku tersenyum manis tanpa rasa gelisah selain karena melihat senyuman bahagia dari ayah dan bunda serta kakak dan adikku.
Aku sangat mencintai keluargaku lebih dari apapun, baik sekarang, besok dan sampai kapanpun aku akan tetap mencintai keluargaku…
Tidak terasa sudah 10 hari berlalu dan semua hari itu aku lalui dengan penuh kebosanan, namun hari ini semua rasa bosan itu akan hilang dengan kehadiran senyuman dari bunda, adik-adikku serta ayahku. Hari ini adalah hari yang paling menyenangkan bagiku, hari ini aku akan pulang ke rumah karena semua tugas-tugasku sudah selesai. Aku sangat gembira karena bisa menyelesaikan tugasku lebih cepat dari perkiraanku.
Aku bersiap-siap untuk pulang, aku ingin segera sampai di rumah. Semua barang yang ingin aku bawa telah rapi pada tempatnya dan akupun sudah selesai menghias diri. Namun ada satu hal yang membuat aku gelisah, sudah 30 menit aku menunggu kakakku tapi dia belum datang juga. Kakakku akan mengantarkan aku sampai ke terminal.
Setelah 45 menit aku menunggu, akhirnya kakakku datang juga dan aku bergegas pergi bersama kakakku.
. . .
Setelah melalui perjalanan yang melelahkan, akhirnya aku sampai di desaku yang tercita. Tepat pukul 5.30 wib aku sampai di rumah dan aku langsung menumpahkan rasa rinduku kepada adik-adikku dengan bercanda bersama mereka. Setelah puas bercanda, aku menghampiri bundaku dengan niat ingin membantu pekerjaan rumah yang mungkin belum diselesaikan oleh bunda.
Kini siang telah berganti dengan malam, aku melepaskan rindu pada indahnya suasana malam di rumahku dengan memandangi taman langit yang penuh dengan bintang yang sangat cantik dan kurasakan sambutan lembut dari angin malam yang begitu ramah. Sungguh berbeda dengan angin malam yang aku rasakan di Jakarta.
Karena tidak mau ketinggalan oleh suasana hangat bersama ayah dan bunda searata adik-adikku, aku segera masuk dan bergabung dengan mereka. Aku bercanda dan tertawa bersama mereka, aku sangat bahagia karena malam ini aku bisa melihat senyuman dari wajah mereka. Kini aku bisa tersenyum bahagia setelah melihat senyuman mereka lagi dan tiada rasa gelisah ataupun rasa bosan yang aku rasakan semenjak aku menginjak halaman rumahku dan melihat wajah ayah dan bunda serta adik-adikku dengan senyum manis mereka.
Kini aku sadar, tiada hal yang lebih berharga selain senyuman keluargaku. Tiada hari yang paling indah selain hari-hari yang aku lewati bersama ayah dan bunda serta saudaraku. Dan tiada yang bisa membuat aku tersenyum manis tanpa rasa gelisah selain karena melihat senyuman bahagia dari ayah dan bunda serta kakak dan adikku.
Aku sangat mencintai keluargaku lebih dari apapun, baik sekarang, besok dan sampai kapanpun aku akan tetap mencintai keluargaku…
IV. Hari Yang Membosankan
Hari ini sudah menginjak hari ke 3 aku berada di Jakarta, dan malam ini adalah malam ke 4 yang aku lewati di kamar kos yang membosankan. Malam ini tidak ada hal yang menarik, sama seperti halnya hari yang aku lewati selalu penuh dengan kejenuhan. Aku bosan dengan suasana malam yang begitu kaku seperti ini, aku rindu suasana malam yang penuh dengan keindahan karena kehadiran bintang-bintang yang begitu cantik dan seolah melambaikan tangan dengan penuh senyuman kepadaku. Aku rindu sentuhan angin malam yang seolah membelai rambutku dengan penuh kelembutan.
Aku melewati hari ini dengan perasaan gelisah dan rasa rindu yang semakin besar. Bahkan aku tidak bisa melakukan kegiatanku dengan baik karena rasa rinduku ini, aku sangat merindukan rumah.
Entah kenapa aku merasa waktu berputar sangat lambat, hari-hari yang aku lewati seakan enggan untuk mengganti harinya dengan hari esok. Baru 3 hari aku berada di Jakarta tapi aku sudah merasa sudah 1 bulan aku di Jakarta, waktu sungguh berputar sangat lambat. Aku merasa waktu tertawa dengan kegelisahan yang aku rasakan sampai sekarang sehingga waktu sengaja memperlambat langkahnya.
Aku bingung apa yang harus aku lakukan malam ini, aku ingin tidur tapi mataku tidak sependapat dengan pikiranku. Semua yang aku lakukan tidak bisa menghilangkan rasa bosan yang aku rasakan saat ini. Sepertinya malam ini aku akan tidur pagi lagi seperti malam-malam sebelumnya, aku ingin menyelesaikan tugasku. Aku duduk didepan computer dan mulai melanjutkan tugasku, aku cukup merasa lega karena aku masih mempunyai sahabat (computer) yang setia menemani aku melewati hari-hari yang membosankan ini. Aku mulai memainkan jariku dengan huruf-huruf yang seolah menari dan menghiburku.
Tanpa terasa waktu menunjukkan pukul 2 pagi dan mataku pun sudah mulai merasa lelah dan meminta waktu kepadaku untuk istirahat sejenak. Aku menghentikan jariku dan memutuskan unuk segera tidur agar besok pagi aku bisa bangun pagi karena rencananya sebelum ke kampus aku ingin menjenguk kakakku yang sedang sakit. Lagipula kepalaku juga sudah mulai pusing karena terlalu lama begadang. Aku harap malam ini aku akan ditemani mimpi indah.
Tanpa terasa pagi telah datang dan membangunkan aku dari mimpiku, mentari telah memperlihatkan keangkuhan sinarnya dan menuntut semua insan untuk segera bangun dari mimpinya dan melanjutkan kembali kegiatan. Aku berharap hari ini akan lebih baik dari hari kemarin tentunya dan semoga hari ini tidak begitu membosankan seperti hari-hari sebelumnya.
Aku beranjak dari empat tidurku dan segera mandi walaupun sebenarnya mataku masih terasa berat. Semalam aku tidur terlalu larut karena mataku tidak ingin tertutup, seperti malam-malam sebelumnya semalam aku susah tidur lagi.
Aku telah siap untuk menjenguk kakakku yang sedang sakit seperti rencanaku semalam, sebelum berangkat ke kampus aku ingin menjenguk kakakku terlebih dahulu.
Aku sampai di kamar kos dan aku langsung membaringkan tubuhku di atas tempat tidur untuk menghilangkan rasa lelahku setelah seharian melakukan kegiatanku. Sungguh sangat melelahkan dan seperti biasa hari ini tetap teras membosankan dan tak berwarna sama sekali. Tapi ada satu hal yang cukup membuat hariku berwarna karena hari ini aku bisa menjenguk kakakku yang lagi sakit, aku sedih karena dengan keadaan kakakku sekarang dan aku hanya bisa berdo’a agar kakakku segera sembuh dari sakitnya sehingga dia bisa melakukan semua kegiatan seperti biasa.
Aku melewati hari ini dengan perasaan gelisah dan rasa rindu yang semakin besar. Bahkan aku tidak bisa melakukan kegiatanku dengan baik karena rasa rinduku ini, aku sangat merindukan rumah.
Entah kenapa aku merasa waktu berputar sangat lambat, hari-hari yang aku lewati seakan enggan untuk mengganti harinya dengan hari esok. Baru 3 hari aku berada di Jakarta tapi aku sudah merasa sudah 1 bulan aku di Jakarta, waktu sungguh berputar sangat lambat. Aku merasa waktu tertawa dengan kegelisahan yang aku rasakan sampai sekarang sehingga waktu sengaja memperlambat langkahnya.
Aku bingung apa yang harus aku lakukan malam ini, aku ingin tidur tapi mataku tidak sependapat dengan pikiranku. Semua yang aku lakukan tidak bisa menghilangkan rasa bosan yang aku rasakan saat ini. Sepertinya malam ini aku akan tidur pagi lagi seperti malam-malam sebelumnya, aku ingin menyelesaikan tugasku. Aku duduk didepan computer dan mulai melanjutkan tugasku, aku cukup merasa lega karena aku masih mempunyai sahabat (computer) yang setia menemani aku melewati hari-hari yang membosankan ini. Aku mulai memainkan jariku dengan huruf-huruf yang seolah menari dan menghiburku.
Tanpa terasa waktu menunjukkan pukul 2 pagi dan mataku pun sudah mulai merasa lelah dan meminta waktu kepadaku untuk istirahat sejenak. Aku menghentikan jariku dan memutuskan unuk segera tidur agar besok pagi aku bisa bangun pagi karena rencananya sebelum ke kampus aku ingin menjenguk kakakku yang sedang sakit. Lagipula kepalaku juga sudah mulai pusing karena terlalu lama begadang. Aku harap malam ini aku akan ditemani mimpi indah.
Tanpa terasa pagi telah datang dan membangunkan aku dari mimpiku, mentari telah memperlihatkan keangkuhan sinarnya dan menuntut semua insan untuk segera bangun dari mimpinya dan melanjutkan kembali kegiatan. Aku berharap hari ini akan lebih baik dari hari kemarin tentunya dan semoga hari ini tidak begitu membosankan seperti hari-hari sebelumnya.
Aku beranjak dari empat tidurku dan segera mandi walaupun sebenarnya mataku masih terasa berat. Semalam aku tidur terlalu larut karena mataku tidak ingin tertutup, seperti malam-malam sebelumnya semalam aku susah tidur lagi.
Aku telah siap untuk menjenguk kakakku yang sedang sakit seperti rencanaku semalam, sebelum berangkat ke kampus aku ingin menjenguk kakakku terlebih dahulu.
. . .
Aku sampai di kamar kos dan aku langsung membaringkan tubuhku di atas tempat tidur untuk menghilangkan rasa lelahku setelah seharian melakukan kegiatanku. Sungguh sangat melelahkan dan seperti biasa hari ini tetap teras membosankan dan tak berwarna sama sekali. Tapi ada satu hal yang cukup membuat hariku berwarna karena hari ini aku bisa menjenguk kakakku yang lagi sakit, aku sedih karena dengan keadaan kakakku sekarang dan aku hanya bisa berdo’a agar kakakku segera sembuh dari sakitnya sehingga dia bisa melakukan semua kegiatan seperti biasa.
III. Maafkan Aku, Ayah Bunda
Tidak terasa hari sudah siang dan hatiku masih merasa gelisah karena masih ada pertanyaan yang ingin aku sampaikan kepada ayahku sejak pagi tadi, namun karena tembok keraguan yang masih berdiri tegak dihatiku dan menghalangi pertanyaan itu keluar. Jujur aku selalu merasa segan kepada ayahku, entah kenapa aku takut dan merasa jauh dari ayahku. Entah karena perasaanku sendiri yang membuat aku jauh dari ayah atau mungkin karena ayah tidak ingin aku dekat dengannya. Sampai sekarang aku belum bisa menjawab semua itu.
Aku mulai mendekati ayahku dengan penuh keraguan dan aku memberanikan diri menyampaikan pertanyaanku.
“ayah, kan sekarang aku sudah lulus D1 dan sekarang kan lagi nunggu pengumuman tes universitas negeri. Terus kalau aku gak lulus tes, nanti aku tetap kuliah lagi atau gak..??” tanyaku
“nak, karena keadaan kita sekarang yang sangat tidak memungkinkan jadi kamu gak usah kuliah lagi kalau seandainya kamu gak lulus tes. Nanti ayah usahain agar kamu bisa kerja dipemerintah daerah.” Jawab ayah.
“tapi aku pengen kuliah lagi” tegasku
“kamu harus bisa ngerti kondisi keluarga kita sekarang” kata ayah.
Aku langsung pergi dengan hati yang penuh dengan kesedihan, aku menangis dan terus menangis. Aku ingin mengeluarkan semua kesedihanku lewat tetsan air mataku. Bahkan aku sampai tidak mendengarkan panggilan bundaku, aku terus saja menangis. Tanpa sengaja bunda melihat aku menangis dan bertanya alasan aku menangis, tapi aku tidak bisa memberitahu bunda sebab aku menangis karena aku tidak mau bunda ikut sedih dan pasti akan menambah beban bunda karena masalahku ini.
Aku berusaha menyembunyikan kesedihanku tapi ternyata aku tidak bisa, semakin aku menahan kesedihanku, aku semakin merasa marah. Tapi aku tidak tahu marah pada siapa, aku tidak marah pada ayah ataupun bunda. Aku tidak marah pada siapapun, aku tidak tahu kenapa aku bisa merasa marah seperti ini. Dan karena sikapku ini, ayah jadi berbalik marah padaku. Bukan hanya itu, karena perasaanku yang sedang gelisah saat ini, aku jadi marah tanpa alasan pada bundaku. Bahkan aku sudah bertindak sopan dengan bersuara keras dan membentak bundaku. Aku merasa sangat menyesal dengan semua perbuatanku itu dan aku tidak tahu bagaimana menebus kesalahanku itu. Aku harap ayah dan bunda bisa memaafkan sikap aku itu.
Aku merebahkan tubuhku diatas tempat tidur dan aku mulai menenangkan pikiranku. Kini aku bisa mengerti kenapa ayahku bersikap seperti itu, ayah bukannya tidak mengijinkan aku kuliah lagi tapi karena memang keadaan ekonomi keluarga yang tidak mengijinkan apalagi karena adikku yang sedang sakit saat ini dan membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan ditambah kedua kakakku yang masih kuliah dan masih membutuhkan banyak biaya serta adikku yang masih duduk disekolah dasar yang juga masih membutuhkan biaya pendidikan lebih banyak lagi. Aku mulai bisa menerima keputusan ayahku jika aku harus menghentikan kuliahku hanya sampai D1, aku ikhlas dan aku tetap bersyukur karena aku masih bisa merasakan bangku kuliah yang tidak bisa dirasakan oleh teman-temanku yang lain, ya walaupun hanya 1 tahun.
Tapi walaupun begitu aku masih tetap berharap bisa kuliah lagi karena cita-cita aku belum tercapai. Tapi aku yakin Tuhan pasti mendengar harapanku ini dan Tuhan juga pasti sudah menyiapkan hal yang terbaik untuk aku meskipun itu bukan bangku kuliah. Aku akan menerima dengan ikhlas dan aku akan tetap berusaha menjadi anak yang dibanggakan oleh ayah dan bundaku seperti tekad awalku sebelum aku menginjakkan kaki di Jakarta dan duduk dibangku kuliah. Sekarang atau nanti, kuliah ataupun tidak, aku akan tetap berusaha membuat ayah dan bunda bangga kepadaku dan memberikan aku senyuman penuh kebanggaan saat aku berada dihadapan mereka.
Pagi ini mentari kembali menyambutku dengan keindahan sinarnya yang seakan meminta aku untuk tetap bersemangat menyambut hari ini. Aku bergegas mandi dan bersiap-siap mengantar adikku kesekolah, hari ini aku akan berangkat ke Jakarta lagi karena masih ada yang harus aku kerjakan yang sejujurnya tidak ada hubungannya denga kuliah tapi lebih ke organisasi. Seharusnya aku berangkat kemarin, tapi karena aku lihat kemarin masih ada kerjaan dirumah yang pasti membuat bunda sangat kelelahan jadi aku putuskan untuk menunda keberangkatanku, aku ingin membantu bunda dulu dan kemarin juga seperti bukan hari yang baik untuk aku berangkat.
Aku mulai bersiap dan merapikan isi tasku yang akan aku bawa hari ini, tapi entah kenapa aku tiba-tiba merasa ragu untuk berangkat. Aku masih merasa berat meninggalkan bundaku dengan semua tugas-tugas rumah yang harusnya bisa aku kerjakan jika aku ada dirumah, bunda pasti merasa kelelahan jika aku pergi. Tapi bagaimanapun aku harus tetap berangkat, bukan karena tanggung jawabku terhadap organisasi dan juga bukan karena aku ingin menghindar dari semua beban pikiran selama aku dirumah. Sama sekali bukan karena semua itu, selama aku berada dirumah, aku merasa sangat senang karena bisa membantu bunda menyelesaikan tugas rumah. Aku senang karena bisa meliha ayah, bunda dan adik-adikku setiap hari. Walaupun ayah masih saja bersikap dingin kepadaku yang tidak pernah aku ketahui alasan dari sikap dingin ayahku itu, tapi aku tetap merasa sangat bahagia dan untuk pertama kalinya aku merasa betah dirumah. Aku mempunyai satu alasan lain yang membuat aku harus pergi dan meninggalkan semua kebahagiaan ini untuk sementara waktu, walaupun aku merasa sangat berat untuk pergi.
Aku sudah melewati setengah perjalanan menuju Jakarta dan sebentar lagi aku akan sampai di kota yang menyebalkan itu, tapi entah kenapa aku masih merasa gelisah dan merasa berat meninggalkan rumah terutama meninggalkan bunda dan adik-adikku.
Aku telah berbohong kepada ayah, bunda dan kakakku tentang alasanku kembali ke Jakarta karena aku tidak mungkin memberitahukan alasanku yang sebenarnya. Aku kembali ke Jakarta bukan karena aku menyukai kemewahan kota ini, bukan juga karena ingin bertemu seseorang. Tapi karena aku ingin menenangkan diri untuk sementara waktu, karena aku perlu waktu untuk sendiri.
“ayah, bunda, maafin aku karena sudah membohongi kalian, maaf…maaf, mungkin Cuma minta maaf yang bisa aku lakukan saat ini” batinku.
Aku sampai dikosan dengan ditemani langit yang gelap dan aku langsung merebahkan tubuhku diatas tempat tidur karena aku merasa sangat lelah dan rasa lelah yang aku rasa bukan hanya rasa lelah ditubuhku saja tapi pikiranku juga terasa sangat lelah. Apalagi saat aku tiba dikosan, aku merasa suasananya beda yang membuat aku merasa sangat tidak nyaman. Entah semua ini karena aku sudah cukup lama meninggalkan kosan atau mungkin karena pikiran dan hatiku yang memang masih merasa gelisah. Dan aku tidak tahu apa penyebab kegelisahan yang aku rasakan dalam hatiku saat ini. Malam mulai larut, aku mulai menutup mata dan berharap mendapat mimpi yang indah malam ini.
Tanpa terasa pagi kembali datang dan aku beranjak dari tempat tidurku. Berbeda dengan pagi yang aku rasa ketika aku masih berada di rumah, pagi yang aku rasakan sekarang terasa sangat buruk karena tiada kudapatkan sambutan hangat dari bunga-bunga indah dan tiada kudengar nyanyian indah burung-burung cantik. Aku mulai merasa gelisah lagi dan aku sangat merindukan rumah, aku ingin segera pulang tapi itu sangatlah tidak mungkin karena tugasku belum selesai. Aku harus bertahan untuk sementara waktu di kota ini, aku akan berusaha menyelesaikan tugasku diatas kertas secepat mungkin sehingga aku bisa pulang lebih awal dari perkiraanku, aku tidak peduli walupun harus begadang setiap malam untuk menyelesaikan tugasku ini asalkan aku bisa secepatnya pulang kerumah. Sebenarnya jika aku mau, aku bisa pulang hari ini juga tapi ada hal yang menahan aku untuk tetap berada disini.
Aku bergegas mandi agar pikiranku lebih segar dan aku juga memang merasa gerah karena dari semalam aku belum mandi karena terlalu lelah.
Kini aku telah siap untuk berangkat ke kampus yang sepi karena kampus masih libur, tapi setidaknya di kampus aku bisa bertemu teman-temanku yang masih aktif di organisasi. Belum sampai 3 jam aku di kampus tapi entah kenapa aku masih merasa gelisah, pikiranku terus saja tertuju pada rumah, bunda, adik-adikku serta ayahku. Aku memutuskan untuk segera pulang kekosan, aku ingin segera tidur karena mungkin dengan tidur pikiranku bisa lebih tenang.
Aku sampai dikosan dan langsung tidur tanpa peduli berantakannya kamarku karena tadi pagi aku tidak sempat membereskan kamar.
Aku kembali membuka mataku dan betapa kagetnya aku ketika melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 5 sore. Tanpa terasa aku tidur selama 6 jam dan aku merasa kepalaku pusing, mungkin karena terlalu lama tidur. Aku segera mandi karena hari memang sudah sore.
Aku telah selesai mandi dan melakukan kewajibanku kepada Tuhan, aku ke ruang tamu untuk bergabung dengan teman-temanku yang lain yang sedang asyik nonton TV. Aku ikut tertawa bersama teman-temanku tapi pikiranku masih berada dirumah, aku merasa semakin rindu pada bunda, adik-adikku serta ayahku. Tapi setidaknya kehadiran teman-temanku cukup member aku semangat untuk bisa bertahan.
Malam semakin larut, aku dan teman-temanku memutuskan untuk segera tidur agar besok tidak bangun kesiangan. Tapi aku rasa mala mini aku tidak akan bisa tidur karena tadi ciang aku sudah terlalu lama tidur. Tapi aku hanya berharap malam ini cepat berganti dengan pagi dan aku juga berharap hari esok cepat selesai seiring dengan tugasku agar aku bisa cepat pulang ke rumah, hanya itu yang aku inginkan saat ini.
Sambil berbaring diatas tempat tidur, aku berpikir apa yang akan aku lakukan besok agar aku bisa mengurangi rasa rinduku terhadap rumah. Aku merasa hari-hariku begitu hampa tanpa kehadiran bunda dan tawa adik-adikku.
Aku mulai mendekati ayahku dengan penuh keraguan dan aku memberanikan diri menyampaikan pertanyaanku.
“ayah, kan sekarang aku sudah lulus D1 dan sekarang kan lagi nunggu pengumuman tes universitas negeri. Terus kalau aku gak lulus tes, nanti aku tetap kuliah lagi atau gak..??” tanyaku
“nak, karena keadaan kita sekarang yang sangat tidak memungkinkan jadi kamu gak usah kuliah lagi kalau seandainya kamu gak lulus tes. Nanti ayah usahain agar kamu bisa kerja dipemerintah daerah.” Jawab ayah.
“tapi aku pengen kuliah lagi” tegasku
“kamu harus bisa ngerti kondisi keluarga kita sekarang” kata ayah.
Aku langsung pergi dengan hati yang penuh dengan kesedihan, aku menangis dan terus menangis. Aku ingin mengeluarkan semua kesedihanku lewat tetsan air mataku. Bahkan aku sampai tidak mendengarkan panggilan bundaku, aku terus saja menangis. Tanpa sengaja bunda melihat aku menangis dan bertanya alasan aku menangis, tapi aku tidak bisa memberitahu bunda sebab aku menangis karena aku tidak mau bunda ikut sedih dan pasti akan menambah beban bunda karena masalahku ini.
Aku berusaha menyembunyikan kesedihanku tapi ternyata aku tidak bisa, semakin aku menahan kesedihanku, aku semakin merasa marah. Tapi aku tidak tahu marah pada siapa, aku tidak marah pada ayah ataupun bunda. Aku tidak marah pada siapapun, aku tidak tahu kenapa aku bisa merasa marah seperti ini. Dan karena sikapku ini, ayah jadi berbalik marah padaku. Bukan hanya itu, karena perasaanku yang sedang gelisah saat ini, aku jadi marah tanpa alasan pada bundaku. Bahkan aku sudah bertindak sopan dengan bersuara keras dan membentak bundaku. Aku merasa sangat menyesal dengan semua perbuatanku itu dan aku tidak tahu bagaimana menebus kesalahanku itu. Aku harap ayah dan bunda bisa memaafkan sikap aku itu.
Aku merebahkan tubuhku diatas tempat tidur dan aku mulai menenangkan pikiranku. Kini aku bisa mengerti kenapa ayahku bersikap seperti itu, ayah bukannya tidak mengijinkan aku kuliah lagi tapi karena memang keadaan ekonomi keluarga yang tidak mengijinkan apalagi karena adikku yang sedang sakit saat ini dan membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan ditambah kedua kakakku yang masih kuliah dan masih membutuhkan banyak biaya serta adikku yang masih duduk disekolah dasar yang juga masih membutuhkan biaya pendidikan lebih banyak lagi. Aku mulai bisa menerima keputusan ayahku jika aku harus menghentikan kuliahku hanya sampai D1, aku ikhlas dan aku tetap bersyukur karena aku masih bisa merasakan bangku kuliah yang tidak bisa dirasakan oleh teman-temanku yang lain, ya walaupun hanya 1 tahun.
Tapi walaupun begitu aku masih tetap berharap bisa kuliah lagi karena cita-cita aku belum tercapai. Tapi aku yakin Tuhan pasti mendengar harapanku ini dan Tuhan juga pasti sudah menyiapkan hal yang terbaik untuk aku meskipun itu bukan bangku kuliah. Aku akan menerima dengan ikhlas dan aku akan tetap berusaha menjadi anak yang dibanggakan oleh ayah dan bundaku seperti tekad awalku sebelum aku menginjakkan kaki di Jakarta dan duduk dibangku kuliah. Sekarang atau nanti, kuliah ataupun tidak, aku akan tetap berusaha membuat ayah dan bunda bangga kepadaku dan memberikan aku senyuman penuh kebanggaan saat aku berada dihadapan mereka.
Pagi ini mentari kembali menyambutku dengan keindahan sinarnya yang seakan meminta aku untuk tetap bersemangat menyambut hari ini. Aku bergegas mandi dan bersiap-siap mengantar adikku kesekolah, hari ini aku akan berangkat ke Jakarta lagi karena masih ada yang harus aku kerjakan yang sejujurnya tidak ada hubungannya denga kuliah tapi lebih ke organisasi. Seharusnya aku berangkat kemarin, tapi karena aku lihat kemarin masih ada kerjaan dirumah yang pasti membuat bunda sangat kelelahan jadi aku putuskan untuk menunda keberangkatanku, aku ingin membantu bunda dulu dan kemarin juga seperti bukan hari yang baik untuk aku berangkat.
Aku mulai bersiap dan merapikan isi tasku yang akan aku bawa hari ini, tapi entah kenapa aku tiba-tiba merasa ragu untuk berangkat. Aku masih merasa berat meninggalkan bundaku dengan semua tugas-tugas rumah yang harusnya bisa aku kerjakan jika aku ada dirumah, bunda pasti merasa kelelahan jika aku pergi. Tapi bagaimanapun aku harus tetap berangkat, bukan karena tanggung jawabku terhadap organisasi dan juga bukan karena aku ingin menghindar dari semua beban pikiran selama aku dirumah. Sama sekali bukan karena semua itu, selama aku berada dirumah, aku merasa sangat senang karena bisa membantu bunda menyelesaikan tugas rumah. Aku senang karena bisa meliha ayah, bunda dan adik-adikku setiap hari. Walaupun ayah masih saja bersikap dingin kepadaku yang tidak pernah aku ketahui alasan dari sikap dingin ayahku itu, tapi aku tetap merasa sangat bahagia dan untuk pertama kalinya aku merasa betah dirumah. Aku mempunyai satu alasan lain yang membuat aku harus pergi dan meninggalkan semua kebahagiaan ini untuk sementara waktu, walaupun aku merasa sangat berat untuk pergi.
Aku sudah melewati setengah perjalanan menuju Jakarta dan sebentar lagi aku akan sampai di kota yang menyebalkan itu, tapi entah kenapa aku masih merasa gelisah dan merasa berat meninggalkan rumah terutama meninggalkan bunda dan adik-adikku.
Aku telah berbohong kepada ayah, bunda dan kakakku tentang alasanku kembali ke Jakarta karena aku tidak mungkin memberitahukan alasanku yang sebenarnya. Aku kembali ke Jakarta bukan karena aku menyukai kemewahan kota ini, bukan juga karena ingin bertemu seseorang. Tapi karena aku ingin menenangkan diri untuk sementara waktu, karena aku perlu waktu untuk sendiri.
“ayah, bunda, maafin aku karena sudah membohongi kalian, maaf…maaf, mungkin Cuma minta maaf yang bisa aku lakukan saat ini” batinku.
Aku sampai dikosan dengan ditemani langit yang gelap dan aku langsung merebahkan tubuhku diatas tempat tidur karena aku merasa sangat lelah dan rasa lelah yang aku rasa bukan hanya rasa lelah ditubuhku saja tapi pikiranku juga terasa sangat lelah. Apalagi saat aku tiba dikosan, aku merasa suasananya beda yang membuat aku merasa sangat tidak nyaman. Entah semua ini karena aku sudah cukup lama meninggalkan kosan atau mungkin karena pikiran dan hatiku yang memang masih merasa gelisah. Dan aku tidak tahu apa penyebab kegelisahan yang aku rasakan dalam hatiku saat ini. Malam mulai larut, aku mulai menutup mata dan berharap mendapat mimpi yang indah malam ini.
Tanpa terasa pagi kembali datang dan aku beranjak dari tempat tidurku. Berbeda dengan pagi yang aku rasa ketika aku masih berada di rumah, pagi yang aku rasakan sekarang terasa sangat buruk karena tiada kudapatkan sambutan hangat dari bunga-bunga indah dan tiada kudengar nyanyian indah burung-burung cantik. Aku mulai merasa gelisah lagi dan aku sangat merindukan rumah, aku ingin segera pulang tapi itu sangatlah tidak mungkin karena tugasku belum selesai. Aku harus bertahan untuk sementara waktu di kota ini, aku akan berusaha menyelesaikan tugasku diatas kertas secepat mungkin sehingga aku bisa pulang lebih awal dari perkiraanku, aku tidak peduli walupun harus begadang setiap malam untuk menyelesaikan tugasku ini asalkan aku bisa secepatnya pulang kerumah. Sebenarnya jika aku mau, aku bisa pulang hari ini juga tapi ada hal yang menahan aku untuk tetap berada disini.
Aku bergegas mandi agar pikiranku lebih segar dan aku juga memang merasa gerah karena dari semalam aku belum mandi karena terlalu lelah.
Kini aku telah siap untuk berangkat ke kampus yang sepi karena kampus masih libur, tapi setidaknya di kampus aku bisa bertemu teman-temanku yang masih aktif di organisasi. Belum sampai 3 jam aku di kampus tapi entah kenapa aku masih merasa gelisah, pikiranku terus saja tertuju pada rumah, bunda, adik-adikku serta ayahku. Aku memutuskan untuk segera pulang kekosan, aku ingin segera tidur karena mungkin dengan tidur pikiranku bisa lebih tenang.
Aku sampai dikosan dan langsung tidur tanpa peduli berantakannya kamarku karena tadi pagi aku tidak sempat membereskan kamar.
. . .
Aku kembali membuka mataku dan betapa kagetnya aku ketika melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 5 sore. Tanpa terasa aku tidur selama 6 jam dan aku merasa kepalaku pusing, mungkin karena terlalu lama tidur. Aku segera mandi karena hari memang sudah sore.
Aku telah selesai mandi dan melakukan kewajibanku kepada Tuhan, aku ke ruang tamu untuk bergabung dengan teman-temanku yang lain yang sedang asyik nonton TV. Aku ikut tertawa bersama teman-temanku tapi pikiranku masih berada dirumah, aku merasa semakin rindu pada bunda, adik-adikku serta ayahku. Tapi setidaknya kehadiran teman-temanku cukup member aku semangat untuk bisa bertahan.
Malam semakin larut, aku dan teman-temanku memutuskan untuk segera tidur agar besok tidak bangun kesiangan. Tapi aku rasa mala mini aku tidak akan bisa tidur karena tadi ciang aku sudah terlalu lama tidur. Tapi aku hanya berharap malam ini cepat berganti dengan pagi dan aku juga berharap hari esok cepat selesai seiring dengan tugasku agar aku bisa cepat pulang ke rumah, hanya itu yang aku inginkan saat ini.
Sambil berbaring diatas tempat tidur, aku berpikir apa yang akan aku lakukan besok agar aku bisa mengurangi rasa rinduku terhadap rumah. Aku merasa hari-hariku begitu hampa tanpa kehadiran bunda dan tawa adik-adikku.
II. Senyuman Bunda
Indahnya suasana pagi ini mulai terasa berubah menjadi kelam saat aku melihat wajah bundaku. Wajah yang terlihat sangat lelah karena menanggung beban yang begitu banyak dan terlalu banyak kesedihan yang terlihat dari wajah bundaku tersayang. Aku mulai berpikir apa yang harus aku lakukan untuk mengurangi beban bundaku. Aku marah pada diriku sendiri karena sebagai anak aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk bundaku.
Aku mulai masuk dapur, aku ingin membantu bundaku agar dapat mengurangi kelelahannya walaupun hanya sedikit. Baru beberapa menit saja aku ruangan itu tapi aku dah mulai merasa tidak betah, panas dan hanya panas yang terasa diruangan itu. Mungkin karena aku sedang menyalakan api maka suasana dapur menjadi sangat panas yang membuat aku mulai berpikir, sekian lama bundaku berada diruangan ini tanpa pernah mengeluh sedangkan aku yang belum sampai 1 jam diruangan ini, aku sudah mengeluh panjang lebar dan ingin cepat-cepat keluar. Sungguh mulia bundaku yang rela menahan rasa panas ini dari aku kecil sampai aku dewasa, mungkinkah nanti aku bisa seperti bundaku…?? Ah sepertinya itu hal yang sangat mustahil, aku terlalu lemah untuk menghadapi semua ini. Tapi setidaknya aku harap bisa mendapat sedikit kekuatan seperti bundaku.
Matahari kini mulai menunjukan keangkuhannya dan akupun telah selesai memasak. Aku menghampiri bundaku dan aku mendapat sambutan yang kurang menyenangkan dari bundaku, aku tidak tahu apa yang salah dari ucapan dan tingkah lakuku sehingga bunda tiba-tiba marah dan membentak aku. Aku langsung pergi meninggalkan bundaku, aku berlari ke kamar dan melampiaskan kesedihanku dengan menangis. Aku memikirkan apa yang salah dariku sampai bunda bersikap seperti itu padaku, apa da yang tidak beres dengan pekerjaanku…?? Entahlah…
Aku keluar dari kamar dan mulai menghapus air mataku, namun aku masih marah karena sikap bunda terhadapku. Aku berjalan keluar dan bermaksud ingin minum, aku merasa lelah setelah menangis tadi. Namun betapa terkejutnya aku saat melihat bundaku menangis tersedu-sedu sendirian diruang makan dan rasa marahku terhadap bunda seketika musnah dan berubah menjadi iba. Aku sadar aku terlalu egois yang hanya menganggap hidupku paling malang, aku terlalu egois karena aku tidak bisa mengerti perasaan bundaku, aku terlalu egois karena langsung marah hanya karena dibentak oleh bundaku tanpa menyadari bahwa bundaku bersikap seperti itu karena sudah terlalu lelah menanggung semua beban. Seharusnya aku bisa menyadari kesedihan yang dirasakan oleh bundaku.
Aku masuk dan bertanya kepada bundaku alasan yang membuat bunda bisa menangis, namun bukan jawaban yang aku dapatkan. Bundaku hanya memberikan aku nasihat sambil meneteskan air matanya.
Aku masih memikirkan nasihat bundaku tadi, dan akupun mulai mengerti maksud dari ucapan bunda dan alasan bunda menangis. Tanpa aku sadari, air mataku menetes dan aku mulai menangis sejadinya. Aku mulai bisa merasakan semua beban yang ditanggung oleh bundaku. Dalam hati aku berkata,
“aku harus bisa menghapus air mata bunda dan aku harus bisa membuat bunda tersenyum setiap saat”
Aku mulai berusaha mewujudkan keinginanku itu dengan bercanda bersama adikku didepan bundaku dan setelah beberapa lama, bundaku akhirnya bisa tersenyum dengan sangat manis. Aku merasa sangat bahagia karena bisa melihat bunda tersenyum lagi.
Aku mulai masuk dapur, aku ingin membantu bundaku agar dapat mengurangi kelelahannya walaupun hanya sedikit. Baru beberapa menit saja aku ruangan itu tapi aku dah mulai merasa tidak betah, panas dan hanya panas yang terasa diruangan itu. Mungkin karena aku sedang menyalakan api maka suasana dapur menjadi sangat panas yang membuat aku mulai berpikir, sekian lama bundaku berada diruangan ini tanpa pernah mengeluh sedangkan aku yang belum sampai 1 jam diruangan ini, aku sudah mengeluh panjang lebar dan ingin cepat-cepat keluar. Sungguh mulia bundaku yang rela menahan rasa panas ini dari aku kecil sampai aku dewasa, mungkinkah nanti aku bisa seperti bundaku…?? Ah sepertinya itu hal yang sangat mustahil, aku terlalu lemah untuk menghadapi semua ini. Tapi setidaknya aku harap bisa mendapat sedikit kekuatan seperti bundaku.
Matahari kini mulai menunjukan keangkuhannya dan akupun telah selesai memasak. Aku menghampiri bundaku dan aku mendapat sambutan yang kurang menyenangkan dari bundaku, aku tidak tahu apa yang salah dari ucapan dan tingkah lakuku sehingga bunda tiba-tiba marah dan membentak aku. Aku langsung pergi meninggalkan bundaku, aku berlari ke kamar dan melampiaskan kesedihanku dengan menangis. Aku memikirkan apa yang salah dariku sampai bunda bersikap seperti itu padaku, apa da yang tidak beres dengan pekerjaanku…?? Entahlah…
Aku keluar dari kamar dan mulai menghapus air mataku, namun aku masih marah karena sikap bunda terhadapku. Aku berjalan keluar dan bermaksud ingin minum, aku merasa lelah setelah menangis tadi. Namun betapa terkejutnya aku saat melihat bundaku menangis tersedu-sedu sendirian diruang makan dan rasa marahku terhadap bunda seketika musnah dan berubah menjadi iba. Aku sadar aku terlalu egois yang hanya menganggap hidupku paling malang, aku terlalu egois karena aku tidak bisa mengerti perasaan bundaku, aku terlalu egois karena langsung marah hanya karena dibentak oleh bundaku tanpa menyadari bahwa bundaku bersikap seperti itu karena sudah terlalu lelah menanggung semua beban. Seharusnya aku bisa menyadari kesedihan yang dirasakan oleh bundaku.
Aku masuk dan bertanya kepada bundaku alasan yang membuat bunda bisa menangis, namun bukan jawaban yang aku dapatkan. Bundaku hanya memberikan aku nasihat sambil meneteskan air matanya.
. . .
Aku masih memikirkan nasihat bundaku tadi, dan akupun mulai mengerti maksud dari ucapan bunda dan alasan bunda menangis. Tanpa aku sadari, air mataku menetes dan aku mulai menangis sejadinya. Aku mulai bisa merasakan semua beban yang ditanggung oleh bundaku. Dalam hati aku berkata,
“aku harus bisa menghapus air mata bunda dan aku harus bisa membuat bunda tersenyum setiap saat”
Aku mulai berusaha mewujudkan keinginanku itu dengan bercanda bersama adikku didepan bundaku dan setelah beberapa lama, bundaku akhirnya bisa tersenyum dengan sangat manis. Aku merasa sangat bahagia karena bisa melihat bunda tersenyum lagi.
"SENYUMAN DALAM SETIAP LANGKAHKU"
I.Hilangnya Sebuah Senyuman
Bulan bersinar dengan begitu indahnya ditemani bintang-bintang yang sungguh menawan bagaikan taman langit yang dihuni para bidadari cantik. Sungguh sempurna ciptaan Tuhan, tiada da yang kurang sedikitpun…
Angin bertiup membelai rambutku dengan lembut dan seolah membisikkan kata ke telingaku, berkata bahwa malam ini begitu indah. Aku sangat merindukan suasana seperti ini, menatap indahnya taman langit yang berhiaskan bulan dan bintang ditemani lembutnya sentuhan angin malam ini yang membuat pikiran begitu tenang serasa tidak ada masalah sedikitpun. Di Jakarta aku tidak pernah merasakan suasana seperti ini, perasaan yang ada hanya rasa tegang dan cemas tentang hari esok. Pikiran selalu dipenuhi dengan beban-beban yang seakan tiada habisnya, masalah-masalah yang setiap detik menggerogoti pikiranku dan membuat aku seakan tidak bisa bernafas dengan baik. Sungguh sangat berbeda dengan apa yang aku rasakan saat ini dan aku berharap ketenangan ini tidak pernah berakhir.
Malam semakin larut dan hampir menginjak dini hari dan udara malam mulai terasa menusuk kulit seakan memaksa aku untuk beranjak dari tempatku dan segera tidur. Namun aku masih ingin menikmati indahnya malam ini, aku tidak ingin melewatkan kesempatan berharga ini sedikitpun.
Udara malam terus memaksa aku untuk segera tidur dan seakan udara malam ini mulai mempengaruhi mataku sehingga aku merasa sangat mengantuk. Akhirnya aku putuskan untuk segera tidur dan membiarkan mata dan seluruh tubuhku untuk beristirahat sejenak sebelum kembali menghadapi hari esok.
Aku mulai merebahkan tubuhku di atas tempat tidurku yang nyaman, setelah 6 jam lebih aku duduk menatap indah nya taman langit kini saatnya aku mengistirahatkan tubuhku. Aku berharap malam ini bisa tidur nyenyak ditemani mimpi yang indah dan kuharap saat aku kembali membuka mata ini, aku akan disambut oleh pagi yang indah beserta semua kesempurnaan ciptaan Tuhan.
Pagi pun datang dan membangunkan aku dari tidurku dengan sinarnya yang begitu indah. Selain indahnya sinar mentari, akupun disambut oleh burung-burung cantik dengan nyanyiannya yang indah beserta hembusan udara pagi yang begitu sejuk. Aku semakin takjub saat kupandang disekitarku yang penuh dengan bunga-bunga yang sangat indah. Suasana pagi ini tidak pernah aku temukan di Jakarta.
Indahnya pagi ini membuat aku merasa enggan untuk segera membersihkan diri, aku ingin lebih lama menikmati keindahan pagi ini. Aku merasa masih berada di dunia mimpi.
Dalam lamunanku, aku dikagetkan oleh suara bundaku yang menyusuh aku untuk segera mandi dan sarapan karna setelah itu aku harus mengantarkan adikku ke sekolah. Aku mempunyai 2 orang adik yang sangat aku sayangi, yang saat ini masih sekolah dasar dan sekolah menengah atas.
Selama aku berada dirumah aku diberi tugas untuk mengantar dan menjemput adikku yang masih SMP karena dia sedang sakit. Sudah beberapa bulan ini adikku sakit jantung yang membuat kami sekeluarga merasa sangat sedih melihat keadaannya saat ini. Badannya kini sangat berbeda dengan yang dulu, sekarang dia sangat kurus. Terkadang aku menangis sendiri melihat keadaan adikku, kenapa adikku yang masih sangat muda harus menanggung penyakit itu. Dia masih terlalu muda untuk merasakan semua penderitaan ini, masih banyak hal yang pastinya ingin dia lakukan. Bahkan karena penyakitnya itu, beberapa waktu lalu adikku harus rela meninggalkan sekolahnya beserta semua kegiatannya untuk sementara waktu karena kondisi tubuhnya yang belum memungkinkan. Dan karena hal itu, saat ini adikku harus mengulang kembali pelajaran dari awal dan harus rela berada dibawah teman-temannya dulu.
Saat aku menatap wajahnya, aku melihat air mata dan kesedihan yang mendalam. Aku tahu dia selalu menangis dalam hati dan selalu bersedih saat melihat teman-temannya yang dulu masih bisa melanjutkan semua kegiatan-kegiatannya, yang tidak bisa dilakukan olehnya. Ingin rasanya aku menangis dan memeluk erat tubuh adikku, seandainya bisa aku berharap penderitaan adikku saat ini bisa terbagi kepadaku. Aku tidak ingin adikku menanggung semua beban ini sendiri, dia masih terlalu kecil untuk semua ini. Kenapa bukan aku yang penuh dengan dosa ini yang menanggung beban berat itu, adikku masih terlalu suci untuk mendapatkan semua ini.
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk adikku agar beban yang dia tanggung saat ini bisa berkurang.
Aku telah siap untuk segera mengantarkan adikku kesekolah dan saat aku melihat adikku yang mulai menghampiriku, ingin rasanya aku menangis dan mendekap tubuhnya. Namun jika aku menangis, adikku akan bertambah sedih dan akhirnya aku hanya bisa menangis dibalik senyumanku yang sebenarnya terasa sangat berat untuk aku perlihatkan.
Aku merasa kini keluargaku tidak bisa tersenyum lagi karena setiap aku melihat wajah ayah dan bundaku, yang aku lihat hanya kesedihan dan air mata yang mereka sebunyikan dibalik senyum palsu. Terkadang aku melihat bundaku menangis sendiri karena keadaan adikku saat ini. Aku tahu bundaku pasti merasa sangat sakit melihat keadaan putrinya seperti itu. Ibu mana yang tidak akan menangis bila melihat anaknya menderita seperti itu di saat umurnya masih sangat muda. Bahkan bukan seorang ibu saja yang akan menangis, semua orangpun bisa meneteskan air mata.
Jujur aku sangat merindukan adikku yang dulu, yang penuh dengan keceriaan, canda dan tawa, yang penuh dengan tikah laku yang terkadang membuat aku tertawa dan marah. Aku rindu bermain bersama dengan adikku, aku ingat dulu aku dan adikku paling senang jalan-jalan disore hari. Aku sangat merindukan semua itu,. Kini aku tidak bisa lagi melihat dia bermain bersama dan tertawa bersama teman-temannya, yang kulihat saat ini hanya tangisan dan kesedihan. Entah kapan aku mendapatkan kembali suasana seperti itu, begitu hangat…
Ternyata benar bahwa penyesalan selalu datang terakhir setelah semuanya menghilang dan berlalu meninggalkan aku.
Angin bertiup membelai rambutku dengan lembut dan seolah membisikkan kata ke telingaku, berkata bahwa malam ini begitu indah. Aku sangat merindukan suasana seperti ini, menatap indahnya taman langit yang berhiaskan bulan dan bintang ditemani lembutnya sentuhan angin malam ini yang membuat pikiran begitu tenang serasa tidak ada masalah sedikitpun. Di Jakarta aku tidak pernah merasakan suasana seperti ini, perasaan yang ada hanya rasa tegang dan cemas tentang hari esok. Pikiran selalu dipenuhi dengan beban-beban yang seakan tiada habisnya, masalah-masalah yang setiap detik menggerogoti pikiranku dan membuat aku seakan tidak bisa bernafas dengan baik. Sungguh sangat berbeda dengan apa yang aku rasakan saat ini dan aku berharap ketenangan ini tidak pernah berakhir.
Malam semakin larut dan hampir menginjak dini hari dan udara malam mulai terasa menusuk kulit seakan memaksa aku untuk beranjak dari tempatku dan segera tidur. Namun aku masih ingin menikmati indahnya malam ini, aku tidak ingin melewatkan kesempatan berharga ini sedikitpun.
Udara malam terus memaksa aku untuk segera tidur dan seakan udara malam ini mulai mempengaruhi mataku sehingga aku merasa sangat mengantuk. Akhirnya aku putuskan untuk segera tidur dan membiarkan mata dan seluruh tubuhku untuk beristirahat sejenak sebelum kembali menghadapi hari esok.
Aku mulai merebahkan tubuhku di atas tempat tidurku yang nyaman, setelah 6 jam lebih aku duduk menatap indah nya taman langit kini saatnya aku mengistirahatkan tubuhku. Aku berharap malam ini bisa tidur nyenyak ditemani mimpi yang indah dan kuharap saat aku kembali membuka mata ini, aku akan disambut oleh pagi yang indah beserta semua kesempurnaan ciptaan Tuhan.
Pagi pun datang dan membangunkan aku dari tidurku dengan sinarnya yang begitu indah. Selain indahnya sinar mentari, akupun disambut oleh burung-burung cantik dengan nyanyiannya yang indah beserta hembusan udara pagi yang begitu sejuk. Aku semakin takjub saat kupandang disekitarku yang penuh dengan bunga-bunga yang sangat indah. Suasana pagi ini tidak pernah aku temukan di Jakarta.
Indahnya pagi ini membuat aku merasa enggan untuk segera membersihkan diri, aku ingin lebih lama menikmati keindahan pagi ini. Aku merasa masih berada di dunia mimpi.
Dalam lamunanku, aku dikagetkan oleh suara bundaku yang menyusuh aku untuk segera mandi dan sarapan karna setelah itu aku harus mengantarkan adikku ke sekolah. Aku mempunyai 2 orang adik yang sangat aku sayangi, yang saat ini masih sekolah dasar dan sekolah menengah atas.
Selama aku berada dirumah aku diberi tugas untuk mengantar dan menjemput adikku yang masih SMP karena dia sedang sakit. Sudah beberapa bulan ini adikku sakit jantung yang membuat kami sekeluarga merasa sangat sedih melihat keadaannya saat ini. Badannya kini sangat berbeda dengan yang dulu, sekarang dia sangat kurus. Terkadang aku menangis sendiri melihat keadaan adikku, kenapa adikku yang masih sangat muda harus menanggung penyakit itu. Dia masih terlalu muda untuk merasakan semua penderitaan ini, masih banyak hal yang pastinya ingin dia lakukan. Bahkan karena penyakitnya itu, beberapa waktu lalu adikku harus rela meninggalkan sekolahnya beserta semua kegiatannya untuk sementara waktu karena kondisi tubuhnya yang belum memungkinkan. Dan karena hal itu, saat ini adikku harus mengulang kembali pelajaran dari awal dan harus rela berada dibawah teman-temannya dulu.
Saat aku menatap wajahnya, aku melihat air mata dan kesedihan yang mendalam. Aku tahu dia selalu menangis dalam hati dan selalu bersedih saat melihat teman-temannya yang dulu masih bisa melanjutkan semua kegiatan-kegiatannya, yang tidak bisa dilakukan olehnya. Ingin rasanya aku menangis dan memeluk erat tubuh adikku, seandainya bisa aku berharap penderitaan adikku saat ini bisa terbagi kepadaku. Aku tidak ingin adikku menanggung semua beban ini sendiri, dia masih terlalu kecil untuk semua ini. Kenapa bukan aku yang penuh dengan dosa ini yang menanggung beban berat itu, adikku masih terlalu suci untuk mendapatkan semua ini.
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk adikku agar beban yang dia tanggung saat ini bisa berkurang.
Aku telah siap untuk segera mengantarkan adikku kesekolah dan saat aku melihat adikku yang mulai menghampiriku, ingin rasanya aku menangis dan mendekap tubuhnya. Namun jika aku menangis, adikku akan bertambah sedih dan akhirnya aku hanya bisa menangis dibalik senyumanku yang sebenarnya terasa sangat berat untuk aku perlihatkan.
Aku merasa kini keluargaku tidak bisa tersenyum lagi karena setiap aku melihat wajah ayah dan bundaku, yang aku lihat hanya kesedihan dan air mata yang mereka sebunyikan dibalik senyum palsu. Terkadang aku melihat bundaku menangis sendiri karena keadaan adikku saat ini. Aku tahu bundaku pasti merasa sangat sakit melihat keadaan putrinya seperti itu. Ibu mana yang tidak akan menangis bila melihat anaknya menderita seperti itu di saat umurnya masih sangat muda. Bahkan bukan seorang ibu saja yang akan menangis, semua orangpun bisa meneteskan air mata.
Jujur aku sangat merindukan adikku yang dulu, yang penuh dengan keceriaan, canda dan tawa, yang penuh dengan tikah laku yang terkadang membuat aku tertawa dan marah. Aku rindu bermain bersama dengan adikku, aku ingat dulu aku dan adikku paling senang jalan-jalan disore hari. Aku sangat merindukan semua itu,. Kini aku tidak bisa lagi melihat dia bermain bersama dan tertawa bersama teman-temannya, yang kulihat saat ini hanya tangisan dan kesedihan. Entah kapan aku mendapatkan kembali suasana seperti itu, begitu hangat…
Ternyata benar bahwa penyesalan selalu datang terakhir setelah semuanya menghilang dan berlalu meninggalkan aku.
Langganan:
Postingan (Atom)
