Selasa, 05 Januari 2010

III. Maafkan Aku, Ayah Bunda


Tidak terasa hari sudah siang dan hatiku masih merasa gelisah karena masih ada pertanyaan yang ingin aku sampaikan kepada ayahku sejak pagi tadi, namun karena tembok keraguan yang masih berdiri tegak dihatiku dan menghalangi pertanyaan itu keluar. Jujur aku selalu merasa segan kepada ayahku, entah kenapa aku takut dan merasa jauh dari ayahku. Entah karena perasaanku sendiri yang membuat aku jauh dari ayah atau mungkin karena ayah tidak ingin aku dekat dengannya. Sampai sekarang aku belum bisa menjawab semua itu.

Aku mulai mendekati ayahku dengan penuh keraguan dan aku memberanikan diri menyampaikan pertanyaanku.
“ayah, kan sekarang aku sudah lulus D1 dan sekarang kan lagi nunggu pengumuman tes universitas negeri. Terus kalau aku gak lulus tes, nanti aku tetap kuliah lagi atau gak..??” tanyaku
“nak, karena keadaan kita sekarang yang sangat tidak memungkinkan jadi kamu gak usah kuliah lagi kalau seandainya kamu gak lulus tes. Nanti ayah usahain agar kamu bisa kerja dipemerintah daerah.” Jawab ayah.
“tapi aku pengen kuliah lagi” tegasku
“kamu harus bisa ngerti kondisi keluarga kita sekarang” kata ayah.

Aku langsung pergi dengan hati yang penuh dengan kesedihan, aku menangis dan terus menangis. Aku ingin mengeluarkan semua kesedihanku lewat tetsan air mataku. Bahkan aku sampai tidak mendengarkan panggilan bundaku, aku terus saja menangis. Tanpa sengaja bunda melihat aku menangis dan bertanya alasan aku menangis, tapi aku tidak bisa memberitahu bunda sebab aku menangis karena aku tidak mau bunda ikut sedih dan pasti akan menambah beban bunda karena masalahku ini.

Aku berusaha menyembunyikan kesedihanku tapi ternyata aku tidak bisa, semakin aku menahan kesedihanku, aku semakin merasa marah. Tapi aku tidak tahu marah pada siapa, aku tidak marah pada ayah ataupun bunda. Aku tidak marah pada siapapun, aku tidak tahu kenapa aku bisa merasa marah seperti ini. Dan karena sikapku ini, ayah jadi berbalik marah padaku. Bukan hanya itu, karena perasaanku yang sedang gelisah saat ini, aku jadi marah tanpa alasan pada bundaku. Bahkan aku sudah bertindak sopan dengan bersuara keras dan membentak bundaku. Aku merasa sangat menyesal dengan semua perbuatanku itu dan aku tidak tahu bagaimana menebus kesalahanku itu. Aku harap ayah dan bunda bisa memaafkan sikap aku itu.

Aku merebahkan tubuhku diatas tempat tidur dan aku mulai menenangkan pikiranku. Kini aku bisa mengerti kenapa ayahku bersikap seperti itu, ayah bukannya tidak mengijinkan aku kuliah lagi tapi karena memang keadaan ekonomi keluarga yang tidak mengijinkan apalagi karena adikku yang sedang sakit saat ini dan membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan ditambah kedua kakakku yang masih kuliah dan masih membutuhkan banyak biaya serta adikku yang masih duduk disekolah dasar yang juga masih membutuhkan biaya pendidikan lebih banyak lagi. Aku mulai bisa menerima keputusan ayahku jika aku harus menghentikan kuliahku hanya sampai D1, aku ikhlas dan aku tetap bersyukur karena aku masih bisa merasakan bangku kuliah yang tidak bisa dirasakan oleh teman-temanku yang lain, ya walaupun hanya 1 tahun.

Tapi walaupun begitu aku masih tetap berharap bisa kuliah lagi karena cita-cita aku belum tercapai. Tapi aku yakin Tuhan pasti mendengar harapanku ini dan Tuhan juga pasti sudah menyiapkan hal yang terbaik untuk aku meskipun itu bukan bangku kuliah. Aku akan menerima dengan ikhlas dan aku akan tetap berusaha menjadi anak yang dibanggakan oleh ayah dan bundaku seperti tekad awalku sebelum aku menginjakkan kaki di Jakarta dan duduk dibangku kuliah. Sekarang atau nanti, kuliah ataupun tidak, aku akan tetap berusaha membuat ayah dan bunda bangga kepadaku dan memberikan aku senyuman penuh kebanggaan saat aku berada dihadapan mereka.

Pagi ini mentari kembali menyambutku dengan keindahan sinarnya yang seakan meminta aku untuk tetap bersemangat menyambut hari ini. Aku bergegas mandi dan bersiap-siap mengantar adikku kesekolah, hari ini aku akan berangkat ke Jakarta lagi karena masih ada yang harus aku kerjakan yang sejujurnya tidak ada hubungannya denga kuliah tapi lebih ke organisasi. Seharusnya aku berangkat kemarin, tapi karena aku lihat kemarin masih ada kerjaan dirumah yang pasti membuat bunda sangat kelelahan jadi aku putuskan untuk menunda keberangkatanku, aku ingin membantu bunda dulu dan kemarin juga seperti bukan hari yang baik untuk aku berangkat.

Aku mulai bersiap dan merapikan isi tasku yang akan aku bawa hari ini, tapi entah kenapa aku tiba-tiba merasa ragu untuk berangkat. Aku masih merasa berat meninggalkan bundaku dengan semua tugas-tugas rumah yang harusnya bisa aku kerjakan jika aku ada dirumah, bunda pasti merasa kelelahan jika aku pergi. Tapi bagaimanapun aku harus tetap berangkat, bukan karena tanggung jawabku terhadap organisasi dan juga bukan karena aku ingin menghindar dari semua beban pikiran selama aku dirumah. Sama sekali bukan karena semua itu, selama aku berada dirumah, aku merasa sangat senang karena bisa membantu bunda menyelesaikan tugas rumah. Aku senang karena bisa meliha ayah, bunda dan adik-adikku setiap hari. Walaupun ayah masih saja bersikap dingin kepadaku yang tidak pernah aku ketahui alasan dari sikap dingin ayahku itu, tapi aku tetap merasa sangat bahagia dan untuk pertama kalinya aku merasa betah dirumah. Aku mempunyai satu alasan lain yang membuat aku harus pergi dan meninggalkan semua kebahagiaan ini untuk sementara waktu, walaupun aku merasa sangat berat untuk pergi.

Aku sudah melewati setengah perjalanan menuju Jakarta dan sebentar lagi aku akan sampai di kota yang menyebalkan itu, tapi entah kenapa aku masih merasa gelisah dan merasa berat meninggalkan rumah terutama meninggalkan bunda dan adik-adikku.

Aku telah berbohong kepada ayah, bunda dan kakakku tentang alasanku kembali ke Jakarta karena aku tidak mungkin memberitahukan alasanku yang sebenarnya. Aku kembali ke Jakarta bukan karena aku menyukai kemewahan kota ini, bukan juga karena ingin bertemu seseorang. Tapi karena aku ingin menenangkan diri untuk sementara waktu, karena aku perlu waktu untuk sendiri.
“ayah, bunda, maafin aku karena sudah membohongi kalian, maaf…maaf, mungkin Cuma minta maaf yang bisa aku lakukan saat ini” batinku.

Aku sampai dikosan dengan ditemani langit yang gelap dan aku langsung merebahkan tubuhku diatas tempat tidur karena aku merasa sangat lelah dan rasa lelah yang aku rasa bukan hanya rasa lelah ditubuhku saja tapi pikiranku juga terasa sangat lelah. Apalagi saat aku tiba dikosan, aku merasa suasananya beda yang membuat aku merasa sangat tidak nyaman. Entah semua ini karena aku sudah cukup lama meninggalkan kosan atau mungkin karena pikiran dan hatiku yang memang masih merasa gelisah. Dan aku tidak tahu apa penyebab kegelisahan yang aku rasakan dalam hatiku saat ini. Malam mulai larut, aku mulai menutup mata dan berharap mendapat mimpi yang indah malam ini.

Tanpa terasa pagi kembali datang dan aku beranjak dari tempat tidurku. Berbeda dengan pagi yang aku rasa ketika aku masih berada di rumah, pagi yang aku rasakan sekarang terasa sangat buruk karena tiada kudapatkan sambutan hangat dari bunga-bunga indah dan tiada kudengar nyanyian indah burung-burung cantik. Aku mulai merasa gelisah lagi dan aku sangat merindukan rumah, aku ingin segera pulang tapi itu sangatlah tidak mungkin karena tugasku belum selesai. Aku harus bertahan untuk sementara waktu di kota ini, aku akan berusaha menyelesaikan tugasku diatas kertas secepat mungkin sehingga aku bisa pulang lebih awal dari perkiraanku, aku tidak peduli walupun harus begadang setiap malam untuk menyelesaikan tugasku ini asalkan aku bisa secepatnya pulang kerumah. Sebenarnya jika aku mau, aku bisa pulang hari ini juga tapi ada hal yang menahan aku untuk tetap berada disini.

Aku bergegas mandi agar pikiranku lebih segar dan aku juga memang merasa gerah karena dari semalam aku belum mandi karena terlalu lelah.

Kini aku telah siap untuk berangkat ke kampus yang sepi karena kampus masih libur, tapi setidaknya di kampus aku bisa bertemu teman-temanku yang masih aktif di organisasi. Belum sampai 3 jam aku di kampus tapi entah kenapa aku masih merasa gelisah, pikiranku terus saja tertuju pada rumah, bunda, adik-adikku serta ayahku. Aku memutuskan untuk segera pulang kekosan, aku ingin segera tidur karena mungkin dengan tidur pikiranku bisa lebih tenang.

Aku sampai dikosan dan langsung tidur tanpa peduli berantakannya kamarku karena tadi pagi aku tidak sempat membereskan kamar.


. . .

Aku kembali membuka mataku dan betapa kagetnya aku ketika melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 5 sore. Tanpa terasa aku tidur selama 6 jam dan aku merasa kepalaku pusing, mungkin karena terlalu lama tidur. Aku segera mandi karena hari memang sudah sore.

Aku telah selesai mandi dan melakukan kewajibanku kepada Tuhan, aku ke ruang tamu untuk bergabung dengan teman-temanku yang lain yang sedang asyik nonton TV. Aku ikut tertawa bersama teman-temanku tapi pikiranku masih berada dirumah, aku merasa semakin rindu pada bunda, adik-adikku serta ayahku. Tapi setidaknya kehadiran teman-temanku cukup member aku semangat untuk bisa bertahan.

Malam semakin larut, aku dan teman-temanku memutuskan untuk segera tidur agar besok tidak bangun kesiangan. Tapi aku rasa mala mini aku tidak akan bisa tidur karena tadi ciang aku sudah terlalu lama tidur. Tapi aku hanya berharap malam ini cepat berganti dengan pagi dan aku juga berharap hari esok cepat selesai seiring dengan tugasku agar aku bisa cepat pulang ke rumah, hanya itu yang aku inginkan saat ini.

Sambil berbaring diatas tempat tidur, aku berpikir apa yang akan aku lakukan besok agar aku bisa mengurangi rasa rinduku terhadap rumah. Aku merasa hari-hariku begitu hampa tanpa kehadiran bunda dan tawa adik-adikku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar