I.Hilangnya Sebuah Senyuman
Bulan bersinar dengan begitu indahnya ditemani bintang-bintang yang sungguh menawan bagaikan taman langit yang dihuni para bidadari cantik. Sungguh sempurna ciptaan Tuhan, tiada da yang kurang sedikitpun…
Angin bertiup membelai rambutku dengan lembut dan seolah membisikkan kata ke telingaku, berkata bahwa malam ini begitu indah. Aku sangat merindukan suasana seperti ini, menatap indahnya taman langit yang berhiaskan bulan dan bintang ditemani lembutnya sentuhan angin malam ini yang membuat pikiran begitu tenang serasa tidak ada masalah sedikitpun. Di Jakarta aku tidak pernah merasakan suasana seperti ini, perasaan yang ada hanya rasa tegang dan cemas tentang hari esok. Pikiran selalu dipenuhi dengan beban-beban yang seakan tiada habisnya, masalah-masalah yang setiap detik menggerogoti pikiranku dan membuat aku seakan tidak bisa bernafas dengan baik. Sungguh sangat berbeda dengan apa yang aku rasakan saat ini dan aku berharap ketenangan ini tidak pernah berakhir.
Malam semakin larut dan hampir menginjak dini hari dan udara malam mulai terasa menusuk kulit seakan memaksa aku untuk beranjak dari tempatku dan segera tidur. Namun aku masih ingin menikmati indahnya malam ini, aku tidak ingin melewatkan kesempatan berharga ini sedikitpun.
Udara malam terus memaksa aku untuk segera tidur dan seakan udara malam ini mulai mempengaruhi mataku sehingga aku merasa sangat mengantuk. Akhirnya aku putuskan untuk segera tidur dan membiarkan mata dan seluruh tubuhku untuk beristirahat sejenak sebelum kembali menghadapi hari esok.
Aku mulai merebahkan tubuhku di atas tempat tidurku yang nyaman, setelah 6 jam lebih aku duduk menatap indah nya taman langit kini saatnya aku mengistirahatkan tubuhku. Aku berharap malam ini bisa tidur nyenyak ditemani mimpi yang indah dan kuharap saat aku kembali membuka mata ini, aku akan disambut oleh pagi yang indah beserta semua kesempurnaan ciptaan Tuhan.
Pagi pun datang dan membangunkan aku dari tidurku dengan sinarnya yang begitu indah. Selain indahnya sinar mentari, akupun disambut oleh burung-burung cantik dengan nyanyiannya yang indah beserta hembusan udara pagi yang begitu sejuk. Aku semakin takjub saat kupandang disekitarku yang penuh dengan bunga-bunga yang sangat indah. Suasana pagi ini tidak pernah aku temukan di Jakarta.
Indahnya pagi ini membuat aku merasa enggan untuk segera membersihkan diri, aku ingin lebih lama menikmati keindahan pagi ini. Aku merasa masih berada di dunia mimpi.
Dalam lamunanku, aku dikagetkan oleh suara bundaku yang menyusuh aku untuk segera mandi dan sarapan karna setelah itu aku harus mengantarkan adikku ke sekolah. Aku mempunyai 2 orang adik yang sangat aku sayangi, yang saat ini masih sekolah dasar dan sekolah menengah atas.
Selama aku berada dirumah aku diberi tugas untuk mengantar dan menjemput adikku yang masih SMP karena dia sedang sakit. Sudah beberapa bulan ini adikku sakit jantung yang membuat kami sekeluarga merasa sangat sedih melihat keadaannya saat ini. Badannya kini sangat berbeda dengan yang dulu, sekarang dia sangat kurus. Terkadang aku menangis sendiri melihat keadaan adikku, kenapa adikku yang masih sangat muda harus menanggung penyakit itu. Dia masih terlalu muda untuk merasakan semua penderitaan ini, masih banyak hal yang pastinya ingin dia lakukan. Bahkan karena penyakitnya itu, beberapa waktu lalu adikku harus rela meninggalkan sekolahnya beserta semua kegiatannya untuk sementara waktu karena kondisi tubuhnya yang belum memungkinkan. Dan karena hal itu, saat ini adikku harus mengulang kembali pelajaran dari awal dan harus rela berada dibawah teman-temannya dulu.
Saat aku menatap wajahnya, aku melihat air mata dan kesedihan yang mendalam. Aku tahu dia selalu menangis dalam hati dan selalu bersedih saat melihat teman-temannya yang dulu masih bisa melanjutkan semua kegiatan-kegiatannya, yang tidak bisa dilakukan olehnya. Ingin rasanya aku menangis dan memeluk erat tubuh adikku, seandainya bisa aku berharap penderitaan adikku saat ini bisa terbagi kepadaku. Aku tidak ingin adikku menanggung semua beban ini sendiri, dia masih terlalu kecil untuk semua ini. Kenapa bukan aku yang penuh dengan dosa ini yang menanggung beban berat itu, adikku masih terlalu suci untuk mendapatkan semua ini.
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk adikku agar beban yang dia tanggung saat ini bisa berkurang.
Aku telah siap untuk segera mengantarkan adikku kesekolah dan saat aku melihat adikku yang mulai menghampiriku, ingin rasanya aku menangis dan mendekap tubuhnya. Namun jika aku menangis, adikku akan bertambah sedih dan akhirnya aku hanya bisa menangis dibalik senyumanku yang sebenarnya terasa sangat berat untuk aku perlihatkan.
Aku merasa kini keluargaku tidak bisa tersenyum lagi karena setiap aku melihat wajah ayah dan bundaku, yang aku lihat hanya kesedihan dan air mata yang mereka sebunyikan dibalik senyum palsu. Terkadang aku melihat bundaku menangis sendiri karena keadaan adikku saat ini. Aku tahu bundaku pasti merasa sangat sakit melihat keadaan putrinya seperti itu. Ibu mana yang tidak akan menangis bila melihat anaknya menderita seperti itu di saat umurnya masih sangat muda. Bahkan bukan seorang ibu saja yang akan menangis, semua orangpun bisa meneteskan air mata.
Jujur aku sangat merindukan adikku yang dulu, yang penuh dengan keceriaan, canda dan tawa, yang penuh dengan tikah laku yang terkadang membuat aku tertawa dan marah. Aku rindu bermain bersama dengan adikku, aku ingat dulu aku dan adikku paling senang jalan-jalan disore hari. Aku sangat merindukan semua itu,. Kini aku tidak bisa lagi melihat dia bermain bersama dan tertawa bersama teman-temannya, yang kulihat saat ini hanya tangisan dan kesedihan. Entah kapan aku mendapatkan kembali suasana seperti itu, begitu hangat…
Ternyata benar bahwa penyesalan selalu datang terakhir setelah semuanya menghilang dan berlalu meninggalkan aku.
Angin bertiup membelai rambutku dengan lembut dan seolah membisikkan kata ke telingaku, berkata bahwa malam ini begitu indah. Aku sangat merindukan suasana seperti ini, menatap indahnya taman langit yang berhiaskan bulan dan bintang ditemani lembutnya sentuhan angin malam ini yang membuat pikiran begitu tenang serasa tidak ada masalah sedikitpun. Di Jakarta aku tidak pernah merasakan suasana seperti ini, perasaan yang ada hanya rasa tegang dan cemas tentang hari esok. Pikiran selalu dipenuhi dengan beban-beban yang seakan tiada habisnya, masalah-masalah yang setiap detik menggerogoti pikiranku dan membuat aku seakan tidak bisa bernafas dengan baik. Sungguh sangat berbeda dengan apa yang aku rasakan saat ini dan aku berharap ketenangan ini tidak pernah berakhir.
Malam semakin larut dan hampir menginjak dini hari dan udara malam mulai terasa menusuk kulit seakan memaksa aku untuk beranjak dari tempatku dan segera tidur. Namun aku masih ingin menikmati indahnya malam ini, aku tidak ingin melewatkan kesempatan berharga ini sedikitpun.
Udara malam terus memaksa aku untuk segera tidur dan seakan udara malam ini mulai mempengaruhi mataku sehingga aku merasa sangat mengantuk. Akhirnya aku putuskan untuk segera tidur dan membiarkan mata dan seluruh tubuhku untuk beristirahat sejenak sebelum kembali menghadapi hari esok.
Aku mulai merebahkan tubuhku di atas tempat tidurku yang nyaman, setelah 6 jam lebih aku duduk menatap indah nya taman langit kini saatnya aku mengistirahatkan tubuhku. Aku berharap malam ini bisa tidur nyenyak ditemani mimpi yang indah dan kuharap saat aku kembali membuka mata ini, aku akan disambut oleh pagi yang indah beserta semua kesempurnaan ciptaan Tuhan.
Pagi pun datang dan membangunkan aku dari tidurku dengan sinarnya yang begitu indah. Selain indahnya sinar mentari, akupun disambut oleh burung-burung cantik dengan nyanyiannya yang indah beserta hembusan udara pagi yang begitu sejuk. Aku semakin takjub saat kupandang disekitarku yang penuh dengan bunga-bunga yang sangat indah. Suasana pagi ini tidak pernah aku temukan di Jakarta.
Indahnya pagi ini membuat aku merasa enggan untuk segera membersihkan diri, aku ingin lebih lama menikmati keindahan pagi ini. Aku merasa masih berada di dunia mimpi.
Dalam lamunanku, aku dikagetkan oleh suara bundaku yang menyusuh aku untuk segera mandi dan sarapan karna setelah itu aku harus mengantarkan adikku ke sekolah. Aku mempunyai 2 orang adik yang sangat aku sayangi, yang saat ini masih sekolah dasar dan sekolah menengah atas.
Selama aku berada dirumah aku diberi tugas untuk mengantar dan menjemput adikku yang masih SMP karena dia sedang sakit. Sudah beberapa bulan ini adikku sakit jantung yang membuat kami sekeluarga merasa sangat sedih melihat keadaannya saat ini. Badannya kini sangat berbeda dengan yang dulu, sekarang dia sangat kurus. Terkadang aku menangis sendiri melihat keadaan adikku, kenapa adikku yang masih sangat muda harus menanggung penyakit itu. Dia masih terlalu muda untuk merasakan semua penderitaan ini, masih banyak hal yang pastinya ingin dia lakukan. Bahkan karena penyakitnya itu, beberapa waktu lalu adikku harus rela meninggalkan sekolahnya beserta semua kegiatannya untuk sementara waktu karena kondisi tubuhnya yang belum memungkinkan. Dan karena hal itu, saat ini adikku harus mengulang kembali pelajaran dari awal dan harus rela berada dibawah teman-temannya dulu.
Saat aku menatap wajahnya, aku melihat air mata dan kesedihan yang mendalam. Aku tahu dia selalu menangis dalam hati dan selalu bersedih saat melihat teman-temannya yang dulu masih bisa melanjutkan semua kegiatan-kegiatannya, yang tidak bisa dilakukan olehnya. Ingin rasanya aku menangis dan memeluk erat tubuh adikku, seandainya bisa aku berharap penderitaan adikku saat ini bisa terbagi kepadaku. Aku tidak ingin adikku menanggung semua beban ini sendiri, dia masih terlalu kecil untuk semua ini. Kenapa bukan aku yang penuh dengan dosa ini yang menanggung beban berat itu, adikku masih terlalu suci untuk mendapatkan semua ini.
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk adikku agar beban yang dia tanggung saat ini bisa berkurang.
Aku telah siap untuk segera mengantarkan adikku kesekolah dan saat aku melihat adikku yang mulai menghampiriku, ingin rasanya aku menangis dan mendekap tubuhnya. Namun jika aku menangis, adikku akan bertambah sedih dan akhirnya aku hanya bisa menangis dibalik senyumanku yang sebenarnya terasa sangat berat untuk aku perlihatkan.
Aku merasa kini keluargaku tidak bisa tersenyum lagi karena setiap aku melihat wajah ayah dan bundaku, yang aku lihat hanya kesedihan dan air mata yang mereka sebunyikan dibalik senyum palsu. Terkadang aku melihat bundaku menangis sendiri karena keadaan adikku saat ini. Aku tahu bundaku pasti merasa sangat sakit melihat keadaan putrinya seperti itu. Ibu mana yang tidak akan menangis bila melihat anaknya menderita seperti itu di saat umurnya masih sangat muda. Bahkan bukan seorang ibu saja yang akan menangis, semua orangpun bisa meneteskan air mata.
Jujur aku sangat merindukan adikku yang dulu, yang penuh dengan keceriaan, canda dan tawa, yang penuh dengan tikah laku yang terkadang membuat aku tertawa dan marah. Aku rindu bermain bersama dengan adikku, aku ingat dulu aku dan adikku paling senang jalan-jalan disore hari. Aku sangat merindukan semua itu,. Kini aku tidak bisa lagi melihat dia bermain bersama dan tertawa bersama teman-temannya, yang kulihat saat ini hanya tangisan dan kesedihan. Entah kapan aku mendapatkan kembali suasana seperti itu, begitu hangat…
Ternyata benar bahwa penyesalan selalu datang terakhir setelah semuanya menghilang dan berlalu meninggalkan aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar